Scroll untuk baca artikel
Finansial

PayLater Tumbuh, Kredivo Perluas Literasi Keuangan ke Ambon

2
×

PayLater Tumbuh, Kredivo Perluas Literasi Keuangan ke Ambon

Sebarkan artikel ini
Kredivo memperluas program edukasi keuangan Generasi Djempolan ke Ambon, Maluku. Program yang telah berjalan sejak 2020 itu untuk pertama kalinya hadir di Ambon dan menyasar mahasiswa Universitas Pattimura

BISNISASIA.CO.ID, AMBON — Pertumbuhan layanan buy now pay later (BNPL) di Indonesia membuat kemampuan masyarakat mengelola utang dan pengeluaran menjadi semakin penting, terutama bagi generasi muda yang mulai mandiri secara finansial.

Data menunjukkan nilai pembiayaan BNPL di Indonesia mencapai Rp31,56 triliun per Juli 2026, sementara jumlah rekening BNPL mencapai 33,55 juta akun, tumbuh 33,54% secara tahunan.

Di tengah pertumbuhan tersebut, Kredivo memperluas program edukasi keuangan Generasi Djempolan ke Ambon, Maluku. Program yang telah berjalan sejak 2020 itu untuk pertama kalinya hadir di Ambon dan menyasar mahasiswa Universitas Pattimura.

Kehadiran di Ambon menjadi bagian dari perluasan edukasi Kredivo di kawasan Indonesia Timur, setelah sebelumnya program tersebut menyambangi Kupang dan Makassar. Momentum ini juga bertepatan dengan Bulan Inklusi Keuangan yang diperingati setiap Oktober.

Bagi Kredivo, peningkatan inklusi keuangan perlu berjalan beriringan dengan literasi. Akses terhadap layanan keuangan digital tanpa kemampuan mengelola pengeluaran dan utang berpotensi meningkatkan risiko masalah keuangan, terutama bagi kelompok muda yang baru mulai mengatur pendapatan sendiri.

Chief Marketing Officer Kredivo Indina Andamari mengatakan literasi keuangan menjadi fondasi sebelum generasi muda menggunakan layanan keuangan digital.

“Selama enam tahun terakhir, kami percaya bahwa literasi keuangan adalah fondasi utama sebelum generasi muda mengakses layanan keuangan digital. Indonesia Timur adalah kawasan dengan potensi ekonomi digital yang terus tumbuh dan populasi muda yang besar, sehingga penting bagi kami untuk hadir dan memastikan momentum pertumbuhan ini dibarengi kesiapan literasi yang memadai,” ujar Indina.

Baca Juga :   DANA Raih Penghargaan Komdigi atas Pemberantasan Konten Ilegal

Menurut dia, Kredivo akan terus memperluas edukasi literasi keuangan di Indonesia Timur untuk membekali generasi muda agar menjadi konsumen digital yang lebih cerdas dan bertanggung jawab.

65,7% Pengguna Tergolong Well-Literate

Urgensi literasi keuangan juga tercermin dalam Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI).

Laporan tersebut mencatat 65,7% pengguna Kredivo tergolong well-literate secara finansial. Dari sisi kemampuan membayar utang, rata-rata Debt-to-Income Ratio pengguna berada pada kisaran 10%–19% dari total pendapatan, yang dikategorikan sangat aman dalam laporan tersebut.

Namun, edukasi tetap diperlukan karena penggunaan layanan kredit digital terus berkembang, sementara sebagian penggunanya merupakan generasi muda.

Data yang sama menunjukkan 57% pengguna Kredivo berasal dari generasi muda. Sebanyak 51,4% responden menyatakan penggunaan Kredivo membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, sedangkan 32,4% menggunakannya untuk kebutuhan mendesak.

Dalam konteks tertentu, PayLater dapat menjadi salah satu akses kredit bagi masyarakat yang sebelumnya belum memiliki pengalaman dengan layanan kredit formal. Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada kemampuan pengguna mengatur arus kas dan membayar kewajiban tepat waktu.

Karena itu, edukasi tidak hanya diperlukan agar masyarakat mengetahui cara menggunakan produk keuangan digital, tetapi juga memahami kapan layanan tersebut layak digunakan dan kapan sebaiknya dihindari.

Generasi Djempolan Masuk Tahun Keenam

Di Ambon, Generasi Djempolan mengangkat tema “Jago Atur Keuangan, Siap Hadapi Masa Depan”. Program ini sebelumnya telah menjangkau generasi muda di sejumlah kota, antara lain Makassar, Pontianak, Manado, Kupang, Semarang, Solo, Jakarta, Palu, Banjarmasin, Batam, dan Bandung.

Baca Juga :   MR.D.I.Y. Indonesia Gelar RUPST Perdana, Tegaskan Komitmen Tata Kelola dan Pertumbuhan Berkelanjutan

Materi edukasi membawa tiga prinsip utama dalam mengelola keuangan, yakni set priority, value over price, dan best of both worlds.

Set priority menekankan kemampuan menentukan prioritas serta batas pengeluaran sesuai kemampuan finansial. Sementara itu, value over price mengajak konsumen mempertimbangkan nilai dan manfaat suatu pengeluaran, bukan semata-mata mengejar harga murah.

Adapun best of both worlds menekankan pentingnya menjadi pengguna teknologi yang cakap sekaligus memiliki pemahaman finansial yang memadai.

Perluasan program ke Ambon juga didukung perkembangan penggunaan layanan digital di wilayah tersebut. Kredivo mencatat jumlah pengguna aktif di Ambon tumbuh 4,5 kali lipat sepanjang 2022–2025, dengan mayoritas pengguna berasal dari kelompok usia produktif 26–35 tahun.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin terbukanya akses masyarakat Ambon terhadap ekosistem keuangan digital, sekaligus memperlihatkan kebutuhan untuk memperkuat kemampuan pengguna dalam memanfaatkan layanan tersebut secara bertanggung jawab.

Dosen Unpatti: Jangan Biarkan FOMO Mengatur Keuangan

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura Evelin Watumlawar, S.Ak., M.M., mengatakan mahasiswa perlu memiliki pemahaman pengelolaan keuangan sejak dini. Menurut dia, kurangnya kemampuan mengatur keuangan ketika kuliah dapat berlanjut menjadi persoalan finansial ketika memasuki dunia kerja.

Baca Juga :   Uang Primer Adjusted Maret 2025 Tumbuh 21,8%, Dipicu Peningkatan Uang Kartal dan Giro

Tantangan tersebut semakin besar di tengah budaya fear of missing out (FOMO) dan you only live once (YOLO) yang mendorong sebagian anak muda mengikuti tren konsumsi tanpa memperhitungkan kemampuan finansial.

“Generasi muda hari ini punya akses keuangan digital paling luas sepanjang sejarah. Tapi akses tanpa kendali sama saja jebakan. Kuncinya bukan menahan diri dari hidup enak, tapi tahu batas aman untuk kantong sendiri, dan memastikan fintech dipakai untuk membantu, bukan justru membebani,” ujar Evelin.

Ia menekankan pentingnya menerapkan prinsip responsible borrowing dan smart spending dalam penggunaan layanan keuangan digital.

Bagi mahasiswa, sejumlah langkah sederhana dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan keuangan, antara lain:

  • Memastikan legalitas perusahaan fintech dan meminjam sesuai kebutuhan, bukan keinginan.
  • Menyusun anggaran bulanan serta memantau arus kas secara rutin.
  • Menerapkan mindful spending dengan membedakan kebutuhan dan keinginan.
  • Menyikapi tren di media sosial secara kritis agar tidak mudah terdorong melakukan konsumsi karena FOMO.

Pada akhirnya, pertumbuhan layanan PayLater tidak hanya membutuhkan perluasan akses, tetapi juga pengguna yang memahami konsekuensi dari setiap transaksi. Bagi generasi muda, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, menghitung kemampuan membayar, serta menjaga arus kas menjadi bagian penting agar kemudahan kredit digital tidak berubah menjadi beban finansial.

Melalui Generasi Djempolan, Kredivo menempatkan edukasi tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas literasi keuangan di berbagai daerah, termasuk Indonesia Timur.