Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Bulan Alzheimer Sedunia 2026, ALZI Soroti Pentingnya Diagnosis Dini

2
×

Bulan Alzheimer Sedunia 2026, ALZI Soroti Pentingnya Diagnosis Dini

Sebarkan artikel ini
Alzheimer Indonesia (ALZI) bersama Alzheimer’s Disease International (ADI) menggelar kampanye kesadaran global sepanjang September 2026 untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai demensia dan pentingnya diagnosis dini.(halodoter)

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — Alzheimer Indonesia (ALZI) bersama Alzheimer’s Disease International (ADI) menggelar kampanye kesadaran global sepanjang September 2026 untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai demensia dan pentingnya diagnosis dini.

Mengusung tema “The Earlier You Know, The More You Can Do: A Dementia Diagnosis Matters”, kampanye tersebut mendorong masyarakat untuk tidak mengabaikan perubahan pada daya ingat maupun kemampuan kognitif, baik pada diri sendiri maupun orang terdekat.

Kampanye yang digelar dalam rangka memperingati Hari Alzheimer Sedunia pada 21 September 2026 itu juga ditujukan untuk menjangkau sekitar 75% orang dengan demensia di dunia yang diperkirakan belum mendapatkan diagnosis formal.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah orang yang hidup dengan demensia secara global diperkirakan mencapai 78 juta pada akhir dekade ini dan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 139 juta pada pertengahan abad. Di sejumlah negara berpenghasilan rendah dan menengah, proporsi orang dengan demensia yang belum terdiagnosis diperkirakan mencapai 90%.

“Sebagai neurolog, saya ingin menekankan bahwa demensia bukan sekadar masalah lupa dan bukan bagian normal dari penuaan. Demensia merupakan manifestasi dari perubahan atau penyakit pada otak,” ujar Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), MD, PhD, Neurolog sekaligus Rektor Unika Atma Jaya.

Menurut Yuda, pada sejumlah jenis demensia, perubahan biologis di otak dapat berlangsung selama bertahun-tahun sebelum gejala terlihat jelas. Otak juga memiliki kemampuan beradaptasi dan mempertahankan fungsi melalui apa yang dikenal sebagai cognitive reserve.

Karena itu, ketika mulai muncul keluhan terkait fungsi kognitif, pemeriksaan sebaiknya tidak ditunda hingga seseorang kehilangan kemandirian.

“Pemeriksaan lebih awal memberi kesempatan untuk mengenali penyebab, menilai kesehatan otak, mengendalikan faktor risiko vaskular seperti hipertensi dan diabetes, serta melakukan intervensi yang dapat membantu mempertahankan fungsi otak selama mungkin,” katanya.

Baca Juga :   Jangan Cuma FOMO, Ini Persiapan Sebelum Ikut Tren Hyrox

Yuda menambahkan, upaya menjaga kesehatan otak juga tidak perlu menunggu hingga terjadi penurunan memori yang signifikan.

“Semakin dini kita mengenali perubahan, semakin banyak yang dapat kita lakukan,” ujarnya.

Demensia Bukan Bagian Normal dari Penuaan

ALZI dan ADI menggunakan kampanye tersebut untuk mendorong masyarakat berbicara lebih terbuka mengenai demensia, mencari informasi dan dukungan, serta mengenali tanda-tanda awal kondisi tersebut.

Kesalahpahaman masih menjadi salah satu hambatan. Sejumlah survei menunjukkan empat dari lima orang dan sekitar dua pertiga tenaga kesehatan masih meyakini bahwa demensia atau yang kerap disebut pikun merupakan bagian alami dari proses penuaan.

Pandangan tersebut, ditambah stigma dan rasa malu, dapat membuat seseorang maupun keluarganya menunda pemeriksaan. Akibatnya, kesempatan untuk mendapatkan penanganan dan dukungan sejak awal juga menjadi lebih terbatas.

Padahal, materi kampanye menyebut hingga 45% kasus demensia dapat ditunda atau dicegah melalui penanganan sejumlah faktor risiko, antara lain kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, kurang aktivitas fisik, pola makan yang buruk, dan isolasi sosial.

Diagnosis Dini Buka Lebih Banyak Pilihan

Plt. Direktur Eksekutif ALZI Imelda Theresia mengatakan diagnosis dini seharusnya tidak dipandang sebagai vonis, melainkan sebagai pintu masuk untuk menentukan langkah berikutnya.

“Diagnosis dini bukanlah vonis, melainkan pintu masuk untuk bertindak dan tetap menjalani hidup yang bermakna,” ujar Imelda.

Menurut dia, semakin awal perubahan dikenali, semakin banyak kesempatan bagi orang dengan demensia (ODD) dan keluarganya untuk merencanakan perawatan, mempertahankan kemandirian, serta memperoleh dukungan yang sesuai.

Imelda juga menekankan pentingnya melibatkan ODD dalam keputusan yang menyangkut kehidupannya. Dengan dukungan dan lingkungan yang inklusif, ODD tetap dapat beraktivitas, bersosialisasi, berkarya, dan bahkan menjadi advokat yang membagikan pengalaman kepada keluarga lain.

Baca Juga :   DBS Vantage Visa Infinite, Kartu Kredit Premium untuk Gaya Hidup Holistik

“ALZI hadir agar ODD dan keluarga tidak menjalani perjalanan ini sendirian. Semakin dini kita tahu, semakin banyak yang dapat kita lakukan bersama,” katanya.

Pentingnya diagnosis dini juga semakin meningkat seiring berkembangnya pilihan penanganan. Sejumlah terapi baru mulai tersedia dan ditujukan untuk memperlambat perkembangan penyakit ketika Alzheimer teridentifikasi pada tahap awal.

Kemajuan pemeriksaan biomarker, termasuk pengembangan tes darah, juga membuka peluang untuk membantu mengidentifikasi patologi Alzheimer sebelum gejala berkembang lebih jauh. Namun, pemanfaatan kemajuan tersebut tetap bergantung pada kesediaan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dan mencari diagnosis.

Selain penanganan medis dan farmakologis, rehabilitasi, desain lingkungan yang inklusif, aktivitas sosial, serta waktu istirahat bagi caregiver juga menjadi bagian dari dukungan untuk mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup ODD beserta pendampingnya.

Aktivitas Fisik dan Kesehatan Otak

Dokter spesialis kedokteran olahraga dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO., Subsp. ALK(K) mengatakan kekhawatiran terhadap diagnosis sering kali membuat keluarga menunda pemeriksaan karena menganggap tidak ada lagi yang dapat dilakukan.

Menurut dia, bukti ilmiah menunjukkan aktivitas fisik memiliki manfaat bagi kesehatan otak, terutama ketika mulai dilakukan sejak tahap gangguan kognitif ringan.

“Banyak keluarga takut mencari diagnosis karena mengira setelahnya tidak ada yang bisa dilakukan. Justru sebaliknya, semakin dini kita tahu, semakin besar yang bisa kita kerjakan,” ujar Antonius.

Ia menambahkan, pada orang dengan demensia yang telah mendapatkan diagnosis, aktivitas fisik yang tepat tetap dapat membantu mempertahankan kemandirian, suasana hati, dan kualitas hidup, baik bagi ODD maupun caregiver.

Kenali Tanda Awal Demensia

Diagnosis yang tepat waktu akan lebih mudah dilakukan ketika masyarakat memahami tanda-tanda peringatan demensia.

Baca Juga :   Trio GAC Rilis Single Lagu Higher

Beberapa gejala awal Alzheimer antara lain kehilangan ingatan, kesulitan melakukan aktivitas yang sebelumnya sudah terbiasa dilakukan, serta masalah dalam berkomunikasi.

Kemunculan gejala tersebut tidak serta-merta berarti seseorang mengalami Alzheimer atau demensia. Namun, perubahan yang mengganggu aktivitas sehari-hari dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan dokter, berbicara dengan keluarga atau orang yang dipercaya, maupun menghubungi organisasi pendamping seperti ALZI.

Bangun Sistem Dukungan Lintas Sektor

ALZI dan ADI mengajak individu, komunitas, tenaga kesehatan, serta pemerintah untuk mengambil bagian dalam meningkatkan kesadaran mengenai demensia.

Upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan diagnosis, tetapi juga bagaimana memastikan orang dengan demensia dan keluarganya mendapatkan pengobatan, perawatan, dukungan sosial, serta lingkungan yang memungkinkan mereka tetap menjalani kehidupan secara bermakna.

Melani Budianta, Orang Dengan Demensia (ODD) sekaligus Dementia Advocate, mengatakan Indonesia membutuhkan sistem dukungan yang bersifat holistik.

“Yang sangat dibutuhkan bagi Orang Dengan Demensia di Indonesia adalah satu sistem dukungan yang bersifat holistik. Pendekatan medis farmakologis perlu dilengkapi dengan penguatan dari aspek psiko-sosial dan kultural,” ujar Melani.

Menurut dia, pendekatan tersebut membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dengan melibatkan ODD dan keluarga sebagai bagian dari proses.

“Di sinilah ALZI dan ADI berperan menjadi ruang interaksi, rumah terbuka, dan lumbung pengetahuan bersama,” katanya.

Melalui kampanye Bulan Alzheimer Sedunia 2026, ALZI dan ADI menekankan bahwa semakin cepat perubahan kognitif dikenali dan dibicarakan, semakin terbuka kesempatan untuk memperoleh informasi, diagnosis, penanganan, serta dukungan yang dibutuhkan ODD dan keluarganya.