Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Stamina Menurun Jangan Selalu Dikira Faktor Usia, Bisa Jadi Sinyal Diabetes

4
×

Stamina Menurun Jangan Selalu Dikira Faktor Usia, Bisa Jadi Sinyal Diabetes

Sebarkan artikel ini
(dari kiri ke kanan): dr. Gagas; dr. Rochsismandoko, Sp.PD, KEMD, FINASIM, FACE; dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM; dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM; dan Leona A. Karnali, CEO Primaya Hospital Group, berfoto bersama dalam acara Seminar Metabolic Endocrine Primaya Hospital yang diselenggarakan pada Juli 2026.

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Penurunan stamina, tubuh yang mudah lelah, perubahan fungsi seksual, kenaikan berat badan hingga perubahan kadar gula darah kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Padahal, perubahan tersebut dapat menjadi sinyal adanya gangguan hormon atau metabolisme yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Primaya Metabolic Endocrine 2026 bertema “Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care” yang digelar pada Juli 2026.

Seminar tersebut menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam, antara lain dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM dan dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM.

Pada pria, kadar testosteron memang cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Data European Male Ageing Study (EMAS) menunjukkan penurunan testosteron dan free testosterone semakin terlihat setelah usia 50 tahun.

Namun, penurunan yang menetap dan disertai keluhan tidak selalu dapat dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah late-onset hypogonadism (LOH) atau kekurangan testosteron pada pria.

Baca Juga :   Happily Day Hadir di Bandung, Ajak 1.000 Lansia Tetap Aktif dan Percaya Diri di Masa Golden Age

Kondisi tersebut diperkirakan dialami sekitar 2,1% populasi pria secara umum. Prevalensinya meningkat dari 0,1% pada kelompok usia 40-49 tahun menjadi 5,1% pada usia 70-79 tahun. Risiko juga dapat meningkat pada pria dengan obesitas atau metabolic syndrome.

Dokter spesialis penyakit dalam UKRIDA Primaya Hospital, dr. Marshell Tendean, mengatakan perubahan fisik yang mulai mengganggu aktivitas dan kualitas hidup perlu mendapat perhatian.

“Bertambahnya usia memang membawa berbagai perubahan pada tubuh, termasuk hormon. Namun, ketika perubahan seperti mudah lelah, penurunan stamina, atau gangguan fungsi seksual mulai menetap dan memengaruhi kualitas hidup, kondisi tersebut perlu dilihat lebih jauh,” ujarnya.

Menurut Marshell, kekurangan testosteron tidak hanya berkaitan dengan fungsi seksual, tetapi dapat berhubungan dengan berbagai aspek kesehatan. Karena itu, evaluasi medis diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan.

Selain gangguan hormon, masalah metabolisme seperti diabetes juga dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Kondisi ini membuat sebagian orang baru mengetahui dirinya mengalami diabetes setelah muncul komplikasi.

Baca Juga :   Penampilan Syifa Hadju dan Enzy Storia Perwakilan Indonesia di Coach New York Fashion Week

Materi Primaya Endocrine 2026 mencatat lebih dari 250 juta orang dewasa di dunia belum menyadari bahwa mereka mengalami gangguan metabolisme. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko komplikasi sebelum pengobatan dilakukan.

Sementara di Indonesia, berdasarkan IDF Diabetes Atlas 2025, Indonesia berada di peringkat kelima dunia dalam jumlah penderita diabetes usia 20-79 tahun dan peringkat ketiga dalam jumlah kasus diabetes yang belum terdiagnosis.

Dokter spesialis penyakit dalam Primaya Hospital Bekasi Barat, dr. Khomimah, mengatakan diabetes perlu dilihat sebagai kondisi yang melibatkan berbagai sistem tubuh, bukan hanya persoalan kadar gula darah.

“Diabetes bukan hanya persoalan gula darah. Prosesnya melibatkan berbagai mekanisme dan organ tubuh, sehingga pengelolaannya juga perlu melihat risiko pasien secara menyeluruh,” jelasnya.

Pada diabetes tipe 2, gangguan metabolisme dapat melibatkan pankreas, hati, jaringan lemak, otot, ginjal, otak, saluran pencernaan hingga sistem imun.

Baca Juga :   La Roche-Posay UV Open 2025 Satukan Tenis dan Edukasi Perlindungan Kulit

Karena itu, keberhasilan pengelolaan diabetes tidak hanya diukur dari satu hasil pemeriksaan laboratorium. Pencegahan komplikasi dan pemeliharaan fungsi organ juga menjadi bagian penting dalam penanganan.

Pendekatan pengelolaan diabetes kini semakin diarahkan dari reaktif menjadi proaktif. Pertimbangan dalam penanganan dapat mencakup kondisi jantung dan ginjal, berat badan, risiko komplikasi, penyakit penyerta, serta kebutuhan dan preferensi pasien.

Dengan pendekatan tersebut, tujuan pengelolaan kesehatan tidak sekadar memperbaiki kadar hormon, gula darah atau berat badan. Upaya tersebut juga diarahkan untuk menjaga fungsi organ, mencegah komplikasi, mempertahankan produktivitas dan kualitas hidup dalam jangka panjang.

Primaya Hospital mendorong masyarakat untuk tidak terburu-buru menganggap perubahan tubuh sebagai konsekuensi normal dari bertambahnya usia. Mengenali perubahan sejak dini dapat menjadi langkah awal untuk mengetahui kondisi kesehatan dan memperoleh penanganan yang sesuai.