BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA-Industri alas kaki tanah air merupakan industri masa depan yang memiliki peluang besar terus berkembang, baik di pasar domestik maupun internasional.
“Industri tekstil, kulit, dan alas kaki Indonesia bukanlah industri masa lalu, melainkan industri masa depan. Setiap sepatu yang kita jahit membawa nama Indonesia di ruang-ruang ritel di seluruh dunia,” kata Agus saat membuka Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut Agus, Indonesia memiliki keunggulan yang tak dimiliki banyak negara, yakni besarnya pasar domestik sekaligus kuat peluang ekspor. Kombinasi tersebut menjadikan industri alas kaki sebagai salah satu sektor manufaktur yang layak terus dikembangkan.
Berdasarkan dari perhitungan Kementerian Perindustrian menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS), potensi pasar sepatu nasional diperkirakan mencapai sekitar Rp290 triliun per tahun.
“Tugas kita bersama memastikan potensi tersebut dapat diisi semaksimal mungkin oleh industri dalam negeri. Pemerintah juga berkewajiban menjaga daya beli masyarakat agar pasar domestik terus tumbuh,” ujarnya.
Agus mengatakan, subsektor tekstil, pakaian jadi, kulit, dan alas kaki masih menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia dengan lebih dari 3,8 juta pekerja. Karena itu, menjaga daya saing industri berarti sekaligus menjaga jutaan lapangan pekerjaan.
Pada semester pertama tahun ini, nilai ekspor sektor tersebut mencapai sekitar US$4,85 miliar, sementara subsektor kulit dan alas kaki tumbuh 5,28 persen.
Untuk mendorong lompatan tersebut, Agus menyampaikan tiga harapan pemerintah kepada pelaku industri yakni Hal Pertama, industri harus terus naik kelas dari sekadar hanya meningkatkan kapasitas produksi menjadi menghasilkan produk bernilai tambah tinggi melalui modernisasi mesin, pemanfaatan teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga penerapan industri hijau.
Menurutnya, konsumen global kini tidak hanya memperhatikan kualitas produk, tetapi juga proses produksinya, termasuk adanya aspek keberlanjutan dan perlindungan terhadap tenaga kerja.
“Dunia hari ini membeli bukan hanya produknya, tetapi juga melihat bagaimana produk itu diproduksi. Di situlah letak masa depan daya saing Indonesia,” ujarnya.
Kedua, pemerintah meminta pelaku usaha memanfaatkan momentum dari implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) untuk memperluas ekspor.
Agus mengingatkan industri agar tidak hanya menunggu peluang, tetapi telah siap dengan sertifikasi, kapasitas produksi, dan kualitas produk ketika akses pasar semakin terbuka.
“Mari kita banjiri produk-produk Indonesia di negara lain, bukan kita banjiri produk negara lain di Indonesia,” tegasnya.
Ketiga, pemerintah ikut mendorong penguatan rantai pasok industri nasional ini dimulai dari penyamak kulit, produsen benang dan kain, hingga produsen alas kaki dan garmen agar menjadi satu ekosistem yang saling terintegrasi.
“Hulu dan hilir harus bergandengan tangan. Ketika ekosistemnya kuat, kita akan lebih siap menghadapi berbagai gejolak global,” kata Agus.
Selain itu, Agus menegaskan pemerintah akan terus memperkuat fondasi industri melalui pemberian insentif investasi, pengamanan perdagangan, transformasi industri 4.0, penerapan standar industri hijau, serta kolaborasi lintas kementerian dan pelaku usaha untuk menciptakan iklim usaha yang sehat dan kompetitif.
Dalam momen gelaran ini, Agus pun berharap penyelenggaraan ILF Expo 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi mampu menghasilkan transaksi bisnis yang nyata.
Dia menargetkan pameran tersebut melahirkan kontrak dagang baru, komitmen baru investasi melalui business matching, serta alih teknologi di bidang mesin, proses produksi, desain, dan pengembangan industri.
“Kalau tiga hal itu tercapai, maka pameran ini bukan hanya sukses sebagai event, tetapi benar-benar menjadi penggerak nyata industri nasional,” ujarnya.
Agus optimistis dengan kolaborasi yang semakin erat antara pemerintah dan pelaku usaha, Indonesia tidak hanya akan menjadi basis produksi, tetapi juga berkembang menjadi simpul strategis dalam rantai pasok industri alas kaki dunia.
Sementara, CEO Krista Exhibitions Daud D. Salim mengatakan ILF dan IGT Expo 2026 menghadirkan solusi menyeluruh bagi industri kulit, alas kaki, garmen, dan tekstil. Ragam produk dan teknologi yang ditampilkan mencakup bahan baku, aksesori, mesin produksi, otomasi, hingga solusi manufaktur modern.
“Di antara para peserta tersebut, terdapat 50 pelaku usaha alas kaki skala UMKM dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat yang turut berpartisipasi dalam menyukseskan pameran ILF dan IGT Expo 2026,” ucap Daud.
Selain peserta dari Indonesia, pameran ini juga diikuti perusahaan dan pelaku industri dari 13 negara lainnya, yakni China, Italia, Uni Emirat Arab, Pakistan, Spanyol, India, Bangladesh, Jerman, Taiwan, Hong Kong, Vietnam, Singapura, dan Korea Selatan.
Penyelenggara juga menghadirkan sejumlah agenda pendukung, seperti The Fashion Show yang menampilkan inovasi terbaru industri kulit, alas kaki, tekstil, dan fesyen nasional.
Di sisi lain, Networking Cocktail Dinner menjadi bagian dari program Business Matching untuk mempertemukan pelaku industri dengan berbagai pemangku kepentingan.
Kegiatan tersebut dihadiri anggota sejumlah asosiasi, antara lain Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (APKI), serta Asosiasi Pemasok Garment dan Aksesoris Indonesia (APGAI).
Penyelenggaraan ILF dan IGT Expo 2026 turut mendapat dukungan pihak dari Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing industri manufaktur nasional melalui kolaborasi bisnis dan adopsi teknologi.











