Scroll untuk baca artikel
Industri

TBS Energi Gandeng DBS Percepat Dekarbonisasi, Target Netral Karbon 2030

1
×

TBS Energi Gandeng DBS Percepat Dekarbonisasi, Target Netral Karbon 2030

Sebarkan artikel ini
PT TBS Energi Utama Tbk (TBS), perusahaan energi terintegrasi yang tengah bertransformasi, pada November 2025 lalu meluncurkan Climate Transition Plan (CTP) sebagai peta jalan strategis untuk mencapai target netralitas karbon pada tahun 2030. Inisiatif ini didukung penuh oleh Bank DBS Indonesia selaku institusi keuangan utama yang memfasilitasi pendanaan berkelanjutan untuk mempercepat transisi energi rendah karbon di Indonesia. Climate Transition Plan TBS merupakan evolusi dari strategi TBS2030 yang diluncurkan pada tahun 2022, dengan panduan yang lebih komprehensif mengenai dekarbonisasi operasional dan portofolio perusahaan

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA — PT TBS Energi Utama Tbk memperkuat langkah transisi menuju bisnis rendah karbon melalui peluncuran Climate Transition Plan (CTP) sebagai peta jalan mencapai target netral karbon pada 2030.

Inisiatif yang mulai diperkenalkan sejak November 2025 ini mendapat dukungan pembiayaan dari Bank DBS Indonesia, yang berperan sebagai mitra strategis dalam mendorong transisi energi berkelanjutan.

CTP merupakan pengembangan dari strategi TBS2030 yang diluncurkan pada 2022.

Dalam dokumen tersebut, perseroan merinci arah dekarbonisasi operasional dan transformasi portofolio bisnis secara lebih komprehensif, sekaligus meningkatkan transparansi kepada investor dan pemangku kepentingan.

Melalui rencana ini, TBS menargetkan pergeseran sumber pendapatan dari bisnis berbasis fosil ke tiga sektor utama, yakni pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan mobilitas listrik.

Baca Juga :   Ekonomi Biru Dapat Jadikan Indonesia Negara Kepulauan yang Maju di Masa Depan

Direktur TBS Energi Utama, Juli Oktarina, mengatakan CTP menjadi panduan strategis untuk memastikan proses dekarbonisasi berjalan terukur dan kredibel.

“Rencana ini menegaskan bahwa keberlanjutan merupakan inti strategi pertumbuhan jangka panjang TBS, dengan fokus pada penghentian bertahap operasional batubara dan reinvestasi ke bisnis rendah karbon,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (1/4/2026).

Sebagai bagian dari implementasi, TBS telah melakukan divestasi dua aset pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara pada 2024. Aset tersebut sebelumnya menyumbang sekitar 86% dari total emisi operasional perusahaan.

Selain itu, TBS juga menargetkan penghentian kegiatan penambangan batu bara pada 2027.

Di sisi ekspansi bisnis hijau, perusahaan mencatat sejumlah perkembangan, antara lain penguatan platform pengelolaan limbah melalui akuisisi di tingkat regional, pengembangan proyek energi terbarukan seperti PLTS terapung di Batam dan minihidro di Lampung, serta ekspansi kendaraan listrik melalui Electrum.

Baca Juga :   Dukung Transisi Energi Nasional, PIS Gandeng PGN Angkut LNG

Hingga kini, Electrum telah mengoperasikan lebih dari 7.500 unit motor listrik dan didukung lebih dari 360 stasiun penukaran baterai di wilayah Jabodetabek.

Secara keseluruhan, TBS menyiapkan investasi hingga US$600 juta untuk mendukung transformasi tersebut. Perseroan menargetkan hampir 80% pendapatan berasal dari bisnis non-batubara pada 2030.

Dari sisi tata kelola, TBS juga menegaskan komitmen terhadap standar global, termasuk pelaporan emisi Scope 1 dan 2 yang telah memperoleh verifikasi terbatas sesuai standar internasional dan regulasi OJK.

Sementara itu, Bank DBS Indonesia menilai transisi menuju ekonomi rendah karbon sebagai peluang strategis untuk menciptakan pertumbuhan berkelanjutan.

Baca Juga :   5 Insight Baru Industri Logam dan Mineral dari The 4th DBS Forum

Director of Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, mengatakan pihaknya tidak hanya menyediakan pembiayaan, tetapi juga pendampingan strategis dalam penyusunan rencana transisi.

“Kami mendukung penyusunan peta jalan dekarbonisasi yang selaras dengan strategi bisnis jangka panjang, sehingga dapat dieksekusi secara nyata menuju target net-zero,” ujarnya.

Sebelumnya, Bank DBS Indonesia juga terlibat dalam fasilitas blended finance senilai US$15 juta untuk Electrum, yang menjadi salah satu pendanaan bersama pertama di Indonesia untuk sektor transportasi berkelanjutan.

Kolaborasi antara sektor keuangan dan korporasi ini diharapkan dapat mempercepat transisi energi nasional sekaligus mendukung target Net Zero Emission Indonesia pada 2060.