Scroll untuk baca artikel
Industri

Talent Shortage 2026: Jepang dan India Tertinggi, Kompetensi AI Kian Langka

4
×

Talent Shortage 2026: Jepang dan India Tertinggi, Kompetensi AI Kian Langka

Sebarkan artikel ini
Kelangkaan sumber daya manusia (SDM) terus meningkat di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah (APME), menjadi momen krusial bagi dunia usaha dan perekonomian regional. Berdasarkan Survei Global Talent Shortage 2026 dari ManpowerGroup, sebanyak 71% perusahaan di APME mengaku kesulitan mengisi lowongan kerja, hampir setara dengan rata-rata global sebesar 72%.

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Kelangkaan sumber daya manusia (SDM) terus meningkat di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah (APME), menjadi momen krusial bagi dunia usaha dan perekonomian regional.

Berdasarkan Survei Global Talent Shortage 2026 dari ManpowerGroup, sebanyak 71% perusahaan di APME mengaku kesulitan mengisi lowongan kerja, hampir setara dengan rata-rata global sebesar 72%.

Survei ini melibatkan lebih dari 39.000 perusahaan di 41 negara, termasuk 12.193 perusahaan di 10 pasar APME. Hasilnya menunjukkan tingkat tantangan rekrutmen yang berbeda di tiap negara.

Baca Juga :   TransTRACK Luncurkan Akademi Talenta Digital untuk Sektor Logistik dan Transportasi Indonesia

Di kawasan APME, Jepang (84%) dan India (82%) mencatat tingkat kelangkaan SDM tertinggi, disusul Uni Emirat Arab (76%).

Sebaliknya, Tiongkok (48%) menjadi negara dengan tingkat kelangkaan SDM terendah di kawasan tersebut maupun secara global.

Secara global, Slowakia (87%), Yunani (84%), dan Jepang berada di posisi teratas dalam hal kesulitan rekrutmen.

Sementara itu, Finlandia (60%) dan Polandia (57%) termasuk negara dengan tingkat kelangkaan lebih rendah, bersama Tiongkok.

Keahlian AI Paling Diburu

Meski tingkat kesulitan berbeda antarnegara, keahlian di bidang kecerdasan buatan (AI) secara konsisten menjadi kompetensi paling sulit ditemukan di APME.

Baca Juga :   Lazada Gunakan Panel Surya di Gudang Utama Lazada, Dorong Logistik eCommerce Berkelanjutan

Dua keahlian teratas yang paling dicari meliputi:

  • Pengembangan model dan aplikasi AI (27%)
  • Literasi AI (26%)

Sementara itu, keahlian konvensional di bidang teknologi informasi (TI) dan data berada di peringkat keenam (18%).

François Lançon, Regional President Asia Pacific & Middle East ManpowerGroup, menilai perkembangan AI telah mengubah lanskap kebutuhan tenaga kerja secara fundamental.

“Perkembangan AI telah mengubah lanskap keahlian kerja dan proses rekrutmen di APME secara mendasar. Kini, keahlian AI bukan lagi kompetensi khusus, namun menjadi penentu daya saing tenaga kerja,” katanya.

Baca Juga :   Empat Kampus Raih Juara Genera-Z Berbakti, Siap Jalankan Proyek Inovatif di Desa Binaan BCA

Ditambahkan, seiring percepatan adopsi AI, perusahaan perlu bergerak di berbagai tahapan sekaligus—mendukung karyawan beradaptasi dengan transformasi berbasis AI sekaligus mempersiapkan pengembangan keahlian yang lebih mendalam dan relevan.

“Di sisi lain, proses rekrutmen juga berubah cepat sehingga perusahaan harus membangun, merekrut, atau memanfaatkan sumber daya untuk mendapatkan talenta dengan keahlian AI,” ujarnya. (PRN)