Scroll untuk baca artikel
Finansial

Ketum Asbanda Tegaskan KUB Bukan Cuma Modal, tapi Sinergi IT dan SDM

2
×

Ketum Asbanda Tegaskan KUB Bukan Cuma Modal, tapi Sinergi IT dan SDM

Sebarkan artikel ini

 

BISNISASIA.CO.ID,JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) Agus H Widodo menegaskan bahwa Kelompok Usaha Bank (KUB) bukan sekadar wadah untuk pemenuhan regulasi permodalan perbankan semata.

Menurut pria yang kini juga menjabat sebagai Direktur Utama Bank Jakarta ini, keberadaan KUB harus dipandang sebagai platform kolaborasi jangka panjang antar-Bank Pembangunan Daerah (BPD) untuk dapat menciptakan efisiensi bersama, khususnya dalam pengembangan teknologi informasi dan Sumber Daya Manusia (SDM).

Agus menjelaskan bahwa KUB ini merupakan platform kolaborasi yang baik, tidak sekedar dalam rangka pemenuhan modal. Tetapi di tahap awal, karena ini juga baru ya KUB ini, di tahap awal itu yang harus dibangun adalah fundamental dari KUB-nya sendiri.

Baca Juga :   Perkokoh Ekosistem Bisnis Lelang dan Retail Mobil Bekas, ASLC Siap Perluas Jaringan Bisnis Gadai  

“Lantas apa itu fundamental? Pasti Tata kelola, manajemen risikonya, mengenai sistemnya, mengenai cyber security-nya, mengenai people, dan sebagainya,” kata Agus dalam siaran pers, baru baru ini.

Agus menyampaikan bahwa di dalam jangka pendek, target dari pembentukan KUB bukan sekadar mengejar volume bisnis maupun laba. Poin utama yang harus dicapai terlebih dahulu adalah menyamakan dan memperkuat standar fundamental di antara bank anggota.

Kolaborasi ini dinilai sangat penting bagi BPD di daerah karena efisiensi menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan industri perbankan saat ini.

Baca Juga :   Lonjakan Laba Antam Dongkrak Prospek Saham Grup MIND ID, Harga Emas Dunia Jadi Pendorong Utama

“Jadi tadi bukan sekadar pemenuhan syarat pemenuhan tetapi untuk dapat membangun satu teknologi itu juga untuk dapat membangun satu SDM yang unggul. Jadi, kalau itu dikerjakan secara bersama itu bisa jadi efisiensi. Itu seh yang membuat kolaborasi ataukah lepas,” tutur Agus.

Melalui wadah KUB, BPD dapat saling berbagi platform teknologi hingga melakukan program pelatihan SDM bersama.

Hal ini dinilai mampu menekan biaya investasi infrastruktur digital yang relatif mahal jika ditanggung secara mandiri oleh masing-masing bank daerah.

Meski memiliki potensi yang besar, Agus tidak menampik adanya sejumlah tantangan yang dihadapi dalam upaya membangun kolaborasi KUB antar-BPD.

Baca Juga :   Kolaborasi Bank Jakarta, Pemprov Jakarta Percepat Kredit Program 3 Juta Rumah

Tantangan pertama terletak pada perbedaan visi maupun kepentingan di antara para pemegang saham. Kedua, kesiapan modal, teknologi, serta kualitas SDM yang belum merata.

Tantangan ketiga adalah terkait munculnya kekhawatiran dari BPD anggota terkait potensi hilangnya identitas sebuah bank daerah saat berkolaborasi.

Sementara tantangan keempat berada pada penentuan pembagian biaya operasional (cost sharing) di awal pembentukan.

Oleh karenanya, Agus menekankan pentingnya pembentukan tata kelola yang standar serta penyelesaian proyek-proyek bersama tahap awal demi menciptakan value creation sebelum melangkah ke skema kolaborasi yang lebih luas.