BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Generasi Z dan milenial di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan dalam mempersiapkan dana pensiun. Di tengah fase produktif, banyak dari mereka lebih fokus pada kebutuhan saat ini, mulai dari pengembangan karier hingga gaya hidup.
Padahal, perencanaan pensiun menjadi krusial seiring proyeksi Indonesia yang akan memasuki fase populasi menua dalam dua dekade ke depan. Tanpa persiapan yang memadai, risiko kerentanan finansial di masa tua semakin meningkat.
Riset Bank DBS Indonesia bertajuk Ageing Society 2025 menunjukkan, sebanyak 19% responden Gen Z usia 22–27 tahun di Asia Tenggara belum berkomitmen menabung untuk pensiun. Angka serupa juga ditemukan pada kelompok milenial usia 28–43 tahun.
Di Indonesia, sekitar 100 juta masyarakat diperkirakan belum memiliki tabungan pensiun pada 2038. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya tingkat menabung, yang rata-rata hanya mencapai 3% dari pendapatan, jauh di bawah rekomendasi ideal minimal 10%.
Mulai Menabung Sejak Dini
Keunggulan utama generasi muda adalah waktu yang panjang sebelum pensiun. Dengan investasi rutin, bahkan dalam nominal kecil, potensi pertumbuhan dana tetap signifikan berkat efek compounding.
Menunda justru membuat target dana pensiun semakin berat karena waktu akumulasi aset menjadi lebih singkat.
Hitung Kebutuhan Pensiun Secara Menyeluruh
Perencanaan pensiun tidak hanya mencakup kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal, tetapi juga gaya hidup, kesehatan, dan aktivitas sosial.
Untuk membantu hal tersebut, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator yang dapat digunakan untuk menghitung kebutuhan dana pensiun secara lebih komprehensif.
Susun Anggaran Bulanan
Pengelolaan keuangan dapat dimulai dari penyusunan anggaran. Metode 50-30-20 menjadi salah satu pendekatan yang umum digunakan, yakni:
- 50% untuk kebutuhan pokok
- 30% untuk keinginan
- 20% untuk tabungan dan investasi
Pendekatan ini membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan tujuan jangka panjang.
Tentukan Strategi Investasi
Strategi investasi perlu disesuaikan dengan fase hidup. Milenial dapat mengombinasikan instrumen saham (60–70%), obligasi (20–30%), dan alternatif (10–15%).
Sementara itu, Gen Z yang baru memulai dapat mempertimbangkan instrumen berisiko rendah seperti obligasi ritel atau reksa dana pendapatan tetap.
Pahami Siklus Ekonomi
Perencanaan pensiun juga membutuhkan pemahaman terhadap siklus ekonomi. Strategi investasi perlu dievaluasi secara berkala agar tetap relevan dengan kondisi pasar.
Head of Market Intelligence Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Boy Suhendry, mengatakan instrumen terdiversifikasi seperti reksa dana dapat menjadi pilihan awal bagi generasi muda.
“Persiapan pensiun bukan sekadar menabung, tetapi memahami strategi sejak dini serta menjalankannya secara disiplin dan konsisten,” ujarnya.
Dengan perencanaan yang tepat dan konsistensi dalam pengelolaan keuangan, generasi muda dapat mencapai kemandirian finansial dan menikmati masa pensiun dengan lebih sejahtera.











