BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Popularitas Hyrox sebagai olahraga yang memadukan lari dan latihan kekuatan terus meningkat di kalangan masyarakat urban. Seiring tren gaya hidup aktif yang berkembang setelah maraton dan padel, para calon peserta diingatkan untuk tidak mengikuti kompetisi hanya karena faktor fear of missing out (FOMO), melainkan mempersiapkan kondisi fisik dan mental secara matang.
Hyrox merupakan kompetisi kebugaran yang mengombinasikan lari dengan serangkaian tantangan kekuatan, seperti sled push dan wall balls. Intensitas yang tinggi membuat olahraga ini membutuhkan persiapan lebih dibandingkan aktivitas kebugaran pada umumnya. Tanpa latihan yang memadai, peserta berisiko mengalami kelelahan ekstrem, cedera otot dan sendi, bahkan pingsan saat bertanding.
Persiapan pertama yang perlu dilakukan adalah memahami format perlombaan. Mengenali karakter setiap tantangan membantu peserta menyusun strategi, termasuk mengatur ritme lari agar tenaga tetap terjaga hingga menyelesaikan seluruh rangkaian latihan. Adaptasi transisi antara lari dan latihan beban juga penting untuk mengurangi risiko cedera.
Selain strategi, fondasi kebugaran harus dibangun secara bertahap. Bagi pemula, latihan rutin selama delapan hingga 12 minggu sebelum mengikuti kompetisi dinilai ideal. Program latihan sebaiknya mengombinasikan latihan kardio, seperti lari interval, dengan penguatan otot melalui gerakan dasar seperti squat, lunge, dan deadlift. Latihan mobilitas dan peregangan juga diperlukan untuk menjaga fleksibilitas sendi.
Pemulihan tubuh menjadi aspek yang tidak kalah penting. Pola makan yang seimbang, asupan protein yang cukup setelah latihan, konsumsi karbohidrat kompleks sebelum berolahraga, serta waktu tidur yang memadai membantu proses pemulihan otot dan menjaga performa selama masa latihan.
Di luar persiapan fisik, peserta juga disarankan mempertimbangkan perlindungan terhadap risiko cedera. Direktur Bisnis Individu merangkap Plt. Direktur Bisnis Korporasi IFG Life, Fabiola Noralita, menilai meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga intensitas tinggi merupakan perkembangan positif, namun harus diimbangi dengan kesadaran terhadap potensi risiko yang menyertainya.
“Kami melihat semakin banyak orang menetapkan target kebugaran sebagai bagian dari gaya hidupnya. Tren ini tentu positif karena mendorong masyarakat untuk lebih aktif dan peduli terhadap kesehatan,” ujar Fabiola.
Menurutnya, setiap orang perlu mengantisipasi risiko cedera yang dapat muncul selama berolahraga, termasuk melalui perlindungan kesehatan atau kecelakaan yang sesuai dengan kebutuhan.
Selain itu, bergabung dengan komunitas Hyrox juga dinilai dapat meningkatkan motivasi berlatih. Dukungan antarpeserta tidak hanya membantu menjaga konsistensi latihan, tetapi juga menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.
Dengan persiapan fisik yang memadai, strategi latihan yang tepat, serta kesadaran terhadap aspek keselamatan, peserta dapat menikmati tantangan Hyrox dengan lebih aman sekaligus memaksimalkan performa saat berkompetisi.











