Scroll untuk baca artikel
Finansial

Krisis Kripto 2026: Puluhan Miliarder Kehilangan Triliunan Akibat Kejatuhan Bitcoin & Token Digital

4
×

Krisis Kripto 2026: Puluhan Miliarder Kehilangan Triliunan Akibat Kejatuhan Bitcoin & Token Digital

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi bitcoin

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Pasar aset kripto global tengah menghadapi tekanan hebat.

Penurunan harga Bitcoin dan token digital lainnya memicu kerugian besar bagi miliarder kripto, eksekutif fintech, serta investor institusi, sekaligus memengaruhi dinamika pasar aset digital secara luas.

Harga Bitcoin Turun Drastis & Dampak ke Kekayaan Miliarder

Sejak puncaknya di US$126.000 per BTC pada pertengahan 2025, harga Bitcoin mengalami penurunan lebih dari 40%, saat ini berada di kisaran US$68.000–US$70.000.

Penurunan ini memicu penghapusan nilai pasar kripto global lebih dari US$2 triliun, terutama akibat aksi jual besar dan tekanan makro ekonomi.

“Volatilitas pasar kripto tetap ekstrem, dan koreksi ini menunjukkan bahwa kekayaan berbasis token digital sangat terpapar risiko pasar,” ujar Dr. Michael Tan, analis kripto senior di CryptoInvest Research.

Baca Juga :   Sembilan Bulan yang Berakhir, QNB Catat Laba Bersih 3,5 Miliar Dolar AS

Tokoh besar ekosistem kripto seperti pemimpin Binance dan Coinbase mencatat kerugian miliaran dolar karena keterikatan aset pada harga token dan saham perusahaan.

Investor ritel pun ikut merasakan dampak dari koreksi tajam ini.

Faktor Pemicu Koreksi

Analis menyebut beberapa faktor utama yang memicu penurunan pasar kripto 2026:

  1. Sentimen Risiko Global & Likuiditas Pasar: Korelasi tinggi antara saham, komoditas, dan aset berisiko membuat investor menarik modal dari kripto saat pasar global memburuk.
  2. Kebijakan Moneter & Penguatan Dolar: Ekspektasi suku bunga lebih tinggi dan penguatan dolar AS menekan minat terhadap aset kripto.
  3. Tekanan Regulasi & Risiko Sistemik: Kasus distribusi kripto senilai puluhan miliar secara tidak sengaja di Korea Selatan menimbulkan panggilan untuk regulasi lebih ketat.
  4. Likuidasi Kontrak Leveraged: Posisi futures yang tidak terhedge dengan baik terpaksa ditutup otomatis, memperparah tekanan jual.
Baca Juga :   Kemenkeu Bakal Atur Kripto sebagai Instrumen Finansial, Apa Keuntungannya?

“Pasar sedang melakukan price discovery. Koreksi ini sekaligus memberi sinyal bagi investor institusi untuk menilai eksposur risiko mereka,” kata Linda Suryani, Head of Digital Assets di Jakarta Investment Group.

Grafik Harga Bitcoin 2025–2026 (Deskriptif)

  • Jan 2025: US$98.000
  • Jun 2025 (Puncak): US$126.000
  • Okt 2025: US$104.000
  • Des 2025: US$89.000
  • Feb 2026: US$68.000–70.000

Tren menunjukkan volatilitas tinggi dan koreksi signifikan dalam 8 bulan terakhir, menandakan risiko tinggi untuk investor ritel maupun institusi.

Respons Pasar & Potensi Rebound

Meskipun pasar masih berada dalam koreksi, beberapa indikator teknikal menunjukkan peluang rebound jangka pendek:

  • Level psikologis US$68.000–70.000 menjadi support potensial.
  • Strategi buy the dip mulai diadopsi investor institusi, meski risiko volatilitas tetap tinggi.

“Investor berpengalaman mulai melihat harga rendah sebagai peluang beli, tapi harus tetap disiplin dalam manajemen risiko,” tambah Dr. Tan.

Dampak pada Ekosistem Kripto di Indonesia

Di Indonesia, volatilitas ini menyoroti beberapa risiko:

  1. Regulasi Belum Konsisten: Meskipun Bappebti mengatur perdagangan aset kripto, pasar masih rawan manipulasi harga dan likuidasi ekstrem.
  2. Paparan Investor Ritel Tinggi: Banyak investor individu memiliki eksposur besar tanpa hedging, sehingga koreksi global bisa memicu kerugian signifikan.
  3. Peluang Inovasi: Koreksi ini sekaligus menjadi momentum bagi startup blockchain untuk menciptakan produk yang lebih aman dan sesuai regulasi.

Menurut Yudha Pratama, pakar blockchain di Universitas Indonesia: