BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – ENTREV, program kolaborasi Pemerintah Indonesia dan United Nations Development Programme (UNDP), bersama Su-Re.co (Sustainability & Resilience – Sure Tangguh Think Tank) dan Spora Institute menggelar workshop tentang penyelarasan kurikulum dan program pelatihan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) roda dua pada 25 Februari 2026 di Jakarta.
Kegiatan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Perindustrian, Dinas Pendidikan DKI Jakarta, hingga sejumlah SMK di wilayah Jabodetabek.
Workshop tersebut bertujuan menyamakan arah penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di sektor kendaraan listrik seiring percepatan transformasi industri otomotif menuju elektrifikasi.
Melalui kegiatan ini, ENTREV mendorong dialog antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri agar tercipta ekosistem pelatihan yang adaptif, relevan, dan berkelanjutan.
Penyelarasan kurikulum dinilai menjadi langkah strategis untuk memastikan lulusan pendidikan vokasi memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri serta perkembangan teknologi kendaraan listrik.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya menjawab tantangan “link and match”, yaitu kesesuaian antara kesiapan tenaga kerja dari institusi pendidikan dengan kebutuhan industri di lapangan.
Berdasarkan riset Su-Re.co yang disampaikan oleh Iqbal Lisan, pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia memiliki potensi ekonomi sekaligus peluang penyerapan tenaga kerja yang besar.
Diperkirakan industri kendaraan listrik membutuhkan hingga 63.500 tenaga kerja terampil pada 2030 untuk mendukung target pengurangan emisi karbon sebesar 7,25 juta ton CO2.
Peluang tersebut terutama terlihat pada sektor konversi kendaraan yang bersifat padat karya, dengan rasio penyerapan sekitar 20 tenaga kerja untuk setiap 1.000 unit kendaraan.
Kondisi ini juga membuka peluang bagi sekitar 125.000 lulusan Teknik Sepeda Motor (TSM) setiap tahun untuk meningkatkan kompetensi melalui sertifikasi khusus kendaraan listrik.
Project Coordinator ENTREV Eko Adji Buwono mengatakan penguatan kompetensi SDM melalui sertifikasi teknis yang diakreditasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menjadi langkah penting untuk memastikan tenaga kerja memenuhi standar kompetensi nasional.
Menurutnya, sertifikasi tersebut juga akan meningkatkan kesiapan kerja lulusan SMK sehingga lebih mudah terserap di industri.
“Transformasi menuju kendaraan listrik tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi. Kita juga perlu memastikan sumber daya manusia memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri,” ujar Eko.
Dari sisi pemerintah, dukungan juga datang dari Kementerian Perindustrian. Perwakilan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian Achmad Rawangga Yogaswara menilai inisiatif ini sejalan dengan agenda penguatan SDM industri nasional.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan sangat penting untuk memastikan kurikulum pendidikan dan pelatihan benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri.
“Kolaborasi seperti ini sangat penting untuk memastikan kurikulum pendidikan dan pelatihan industri selaras dengan kebutuhan nyata di lapangan,” ujarnya.
Dukungan serupa juga disampaikan dari sektor pendidikan vokasi. Perwakilan Direktorat SMK, Ditjen Vokasi Kemendikdasmen Muhammad Habib menilai pengembangan KBLBB membuka peluang besar bagi lulusan pendidikan vokasi.
“Kami melihat pengembangan KBLBB sebagai peluang besar bagi lulusan vokasi. Dengan kurikulum yang tepat dan pelatihan yang terstandar, peserta didik akan lebih siap menghadapi kebutuhan industri masa depan,” kata Habib.
ENTREV menegaskan akan terus mendorong sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri untuk membangun ekosistem kendaraan listrik yang kuat dan berkelanjutan di Indonesia.
Melalui penyelarasan kurikulum dan program pelatihan yang tepat sasaran, Indonesia diharapkan mampu mencetak sumber daya manusia unggul yang siap mendukung transformasi industri menuju masa depan yang lebih hijau dan kompetitif.









