Scroll untuk baca artikel
Industri

CarbonEthics Tekankan Integritas Tinggi dalam Infrastruktur Pasar Karbon Asia Pasifik

2
×

CarbonEthics Tekankan Integritas Tinggi dalam Infrastruktur Pasar Karbon Asia Pasifik

Sebarkan artikel ini
Co-Founder dan Chief Executive Officer (CEO) CarbonEthics, Bimo Soewadji, berbicara dalam diskusi panel Asia Pasifik pada ABAC Meeting I 2026

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – CarbonEthics menegaskan pentingnya integritas pasar karbon dan penguatan infrastruktur regulasi untuk mendorong pembiayaan iklim di kawasan Asia Pasifik. Pandangan tersebut disampaikan dalam forum APEC Business Advisory Council (ABAC) Meeting I 2026 yang digelar pada 7–9 Februari 2026 di Hotel Shangri-La Jakarta.

Forum ini membahas penyelarasan industrialisasi hijau dengan pengembangan energi bersih, penguatan insentif investasi, serta kolaborasi publik–swasta guna membangun rantai pasok yang lebih resilien di tengah dinamika geoekonomi global.

Regulasi Kredibel Jadi Fondasi Perdagangan Karbon

Co-Founder dan CEO CarbonEthics, Bimo Soewadji, menyampaikan bahwa konektivitas regional yang ditopang infrastruktur regulasi kuat menjadi kunci menjaga daya saing kawasan Indo-Pasifik.

Baca Juga :   Starbucks Adhyaksa Diumumkan sebagai Gerai Ramah Lingkungan Pertama di Indonesia

Ia menyoroti langkah Indonesia yang telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional. Regulasi ini dinilai menjadi fondasi perdagangan karbon nasional ketika aturan turunannya diberlakukan.

Menurutnya, infrastruktur yang kredibel dapat mengurangi fragmentasi bilateral dan meningkatkan kepercayaan pelaku pasar terhadap sistem perdagangan karbon.

MRV dan Transparansi Kredit Karbon

Untuk menjembatani kesenjangan kelayakan pembiayaan di pasar karbon APEC, CarbonEthics menekankan pentingnya perangkat pendukung seperti sistem Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) yang andal serta pencatatan kredit karbon yang transparan.

Namun, perangkat teknis tersebut harus dibangun di atas prinsip integritas tinggi. Standar dan mekanisme perdagangan karbon perlu dirancang untuk meningkatkan daya saing pasar tanpa membatasi inovasi, sekaligus mencegah fragmentasi regulasi lintas negara.

Baca Juga :   Titipku Dorong Keterbukaan Pedagang Pasar Via Temu Lapak  

FPIC dan Keterlibatan Komunitas Lokal

CarbonEthics juga menekankan penerapan Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) dalam proyek karbon. Pendekatan ini memastikan komunitas lokal terlibat secara bermakna sebagai penerima langsung manfaat pembiayaan iklim.

Bimo menyatakan bahwa pelibatan masyarakat memperkuat kredibilitas sosial proyek sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap inisiatif karbon berbasis alam.

Dukungan KADIN untuk Pembiayaan Berkelanjutan

Dalam forum tersebut, Shinta Kamdani, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), menekankan pentingnya penguatan inisiatif karbon sebagai bagian strategi pembiayaan berkelanjutan.

Baca Juga :   Insentif Pajak Dongkrak Pembelian Properti, Kenaikan Suku Bunga Geser Tren KPR

Sementara itu, Ketua Umum KADIN Anindya Novyan Bakrie mengapresiasi kontribusi para pembicara dalam mendorong penguatan infrastruktur digital dan pasar karbon berintegritas untuk mempercepat investasi hijau di kawasan.

Komitmen Bangun Pasar Karbon Kredibel

Partisipasi CarbonEthics dalam ABAC Meeting I 2026 menegaskan komitmen perusahaan untuk berkontribusi dalam pembangunan pasar karbon yang kredibel dan berintegritas tinggi. Penguatan tata kelola, kepastian regulasi, serta pelibatan komunitas lokal dinilai menjadi fondasi utama pembiayaan iklim berkelanjutan di tingkat nasional maupun regional.