BISNISASIA.CO.ID, PADANG – World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar lokakarya validasi temuan lapangan untuk riset pemulihan pascabencana banjir Sumatera 2025.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hasil kajian bertajuk Pemulihan Pascabencana Banjir Sumatera 2025 dengan Pendekatan Build Back Better (BBB) untuk Perhutanan Sosial yang Tangguh Bencana.
Penelitian dilakukan di dua provinsi, yakni Sumatera Barat dan Aceh, dengan melibatkan lima Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) dampingan WRI Indonesia.
Senior Manager Regional Sumatera WRI Indonesia, Rakhmat Hidayat, mengatakan pihaknya telah mendampingi kelompok perhutanan sosial di wilayah tersebut sejak 2021.
“Kami ingin berkontribusi dalam penanganan bencana melalui riset ini. Lokakarya ini bertujuan mendapatkan masukan untuk penyempurnaan kajian yang telah dilakukan bersama BRIN, sehingga dapat menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan,” ujarnya.
Gunakan Pendekatan Terintegrasi
BRIN dan WRI Indonesia menyusun rapid assessment secara intensif selama Februari–Maret 2026. Riset ini dipimpin oleh Gusti Ayu Ketut Surtiari, peneliti sosial-kebencanaan dari Pusat Riset Kependudukan BRIN.
Kajian menggunakan kerangka analisis terintegrasi, menggabungkan Model Pressure and Release (PAR) untuk mendiagnosis kerentanan serta pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) guna memetakan kekuatan lokal.
Selain itu, riset juga mencakup analisis peran aktor dan literasi kebencanaan di tingkat komunitas.
Penelitian dilakukan di lima lokasi, yakni Kelurahan Lambung Bukit dan Batu Busuk di Kota Padang, serta Nagari Pagadih di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sementara di Aceh, lokasi riset mencakup Uning Mas, Bate Lhee, dan Alue Simantok.
Libatkan Multi-Pemangku Kepentingan
Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, Ali Yansyah Abdurrahim, mengapresiasi kolaborasi tim riset dalam penyusunan kajian tersebut.
“Kami berharap masukan dari lokakarya ini dapat menyempurnakan dokumen riset, sehingga memberikan manfaat nyata bagi pengambil kebijakan di tingkat daerah,” katanya.
Lokakarya ini turut dihadiri perwakilan Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, akademisi, serta para pihak yang terlibat dalam upaya pemulihan pascabencana.
Seluruh masukan yang dihimpun dalam forum tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan akhir riset, yang diharapkan dapat mendukung kebijakan pemulihan pascabencana yang lebih efektif dan berkelanjutan di wilayah Sumatera.









