Khusus segmen UKM, penyaluran kredit BCA mencapai Rp134 triliun per Juli 2026, tumbuh 6,9% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Angka tersebut melampaui pertumbuhan kredit UKM industri perbankan yang tercatat sebesar 1,2% YoY pada periode yang sama berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih mengatakan, pertumbuhan kredit tersebut mencerminkan komitmen perseroan dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan pelaku usaha di berbagai sektor. BCA juga berupaya menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan spesifik nasabah, termasuk sektor material bangunan, pengembang, dan kontraktor.
Salah satu produk yang ditawarkan adalah Kredit Multiguna Usaha MerDeKa (Material, Developer, dan Kontraktor) atau KMU MerDeKa, yang ditujukan bagi pelaku usaha di ketiga sektor tersebut.
“Pertumbuhan kredit BCA yang positif merupakan cerminan dari komitmen kami dalam memberikan pembiayaan bagi pelaku usaha di berbagai sektor. Kami melihat besarnya kebutuhan pelaku usaha untuk terus berkembang,” ujar John.
Dia menambahkan, penyaluran kredit tetap dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian agar ekspansi pembiayaan dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.
Selain melalui pembiayaan, BCA juga mendukung pengembangan usaha melalui program pendampingan yang mencakup akses pasar, digitalisasi, ekspor, hingga sertifikasi halal. Sejumlah inisiatif yang dijalankan antara lain BCA Bangga Lokal, UMKM Go Export, Sertifikasi Halal, dan BCA UMKM Fest.
Melalui program tersebut, perseroan mendorong pelaku usaha agar mampu memperluas jangkauan pasar, meningkatkan daya saing, dan mengembangkan bisnis secara berkelanjutan. Pendekatan ini melengkapi penyaluran kredit dengan dukungan pengembangan kapasitas usaha.
Di tengah pertumbuhan pembiayaan, BCA juga mencatatkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sebesar 1,8% per Agustus 2026. Sementara itu, rasio loan at risk (LAR) berada di level 4,7%.
Kedua indikator tersebut menjadi bagian dari pemantauan kualitas aset di tengah ekspansi kredit. BCA menyatakan akan terus mempertimbangkan prospek usaha debitur dan dinamika perekonomian dalam menentukan penyaluran pembiayaan.
John mengatakan, perseroan berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan pengelolaan likuiditas untuk memastikan dukungan pembiayaan dapat berlanjut dalam jangka panjang.
“Dengan pertumbuhan kredit yang sehat, kualitas aset yang terjaga, serta dukungan pendanaan yang kuat, kami berharap dapat terus mendampingi nasabah dalam mengembangkan usahanya dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan,” tuturnya.











