BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA- Pasar parfum di Asia Tenggara begitu mengalami pergeseran menarik. Jika sebelumnya konsumen lebih banyak terpapar pada merek global dengan positioning premium, kini muncul gelombang pemain baru yang menawarkan pendekatan berbeda.
Banyak dari mereka membawa kualitas tinggi dengan harga jual yang lebih terjangkau. Salah satu yang perlahan mulai mencuri perhatian adalah BestPerfume.Store.
Founder & PerfumerBestPerfume.Store, Josh Frost, mengatakan Indonesia menjadi pasar strategis karena tingginya permintaan produk personal care yang sesuai dengan kondisi iklim tropis.
Untuk menjawab tantangan ini, perusahaan menghadirkan parfum dengan konsentrasi hingga 50%, jauh di atas standar Eau de Parfum (EDP) yang umumnya berada di kisaran 15%.
“Indonesia memiliki kebutuhan berbeda, terutama terkait daya tahan parfum di iklim panas dan lembap. Kami menghadirkan produk dengan konsentrasi tinggi agar dapat digunakan sepanjang hari tanpa perlu aplikasi ulang,” ujarnya ditemui, beberapa waktu lalu.
Josh menyampaikan, perusahaan saat ini berbasis di Singapura dan tengah memperluas kehadirannya ke tiga pasar utama di kawasan, yakni Filipina, Indonesia, dan Malaysia. Untuk Indonesia, perusahaan belum menetapkan target penjualan secara spesifik karena masih berada dalam fase pembelajaran pasar.
“Fokus utama saat ini adalah memahami kondisi lokal, mengidentifikasi tantangan, serta mencari solusi yang tepat sebelum melakukan ekspansi yang lebih agresif,” ucapnya.
Dia menambahkan bahwa strategi bisnis tidak didorong oleh tekanan target jangka pendek atau tuntutan investor, sehingga tidak ada keharusan untuk mengejar angka penjualan tertentu atau meningkatkan pendapatan secara instan dengan mengorbankan profitabilitas.
Sebaliknya, perusahaan lebih menekankan pada pengumpulan insight pasar dan validasi model bisnis.“Pasar Indonesia sangat atraktif. ini pasar keempat kami setelah Singapura, Filipina, dan Malaysia,” lanjut Josh.
Pendekatan ini mencerminkan strategi ekspansi yang cukup umum di brand modern, yakni validasi di pasar matang sebelum masuk ke pasar dengan volume besar.
Alih-alih bermain pada storytelling atau prestige seperti banyak brand parfum global lainnya, BestPerfume.Store justru coba menempatkan performa sebagai proposisi utama. Ini terlihat dari fokus mereka pada tiga elemen kunci dalam dunia parfum: sillage, projection, dan longevity (SPL).
Ketiganya dirangkum dalam satu pendekatan yang cukup agresif, yaitu konsentrasi parfum hingga 50%. Sebagai perbandingan, mayoritas produk di pasar berada pada level Eau de Toilette (sekitar 10%) atau Eau de Parfum (sekitar 15%).
Dengan konsentrasi tersebut, produk mereka dirancang untuk menjawab tantangan iklim tropis seperti Indonesia, di mana panas dan kelembapan sering kali membuat parfum cepat menguap.
Itu artinya , BestPerfume.Store tidak hanya menjual aroma, tetapi solusi atas pain point konsumen lokal. Ini menjadi diferensiasi yang cukup tajam, terutama dalam segmen harga menengah.
Strategi lain yang cukup menonjol adalah kontrol penuh terhadap rantai produksi. BestPerfume.Store mengelola seluruh proses secara internal, mulai dari formulasi hingga distribusi.
Pendekatan ini memberikan dua keuntungan utama, yakni konsistensi kualitas di setiap batch dan efisiensi biaya yang memungkinkan harga tetap kompetitif
Dalam industri parfum, model seperti ini relatif jarang, terutama untuk brand dengan positioning yang ingin tetap “accessible”. Banyak pemain justru bergantung pada pihak ketiga untuk produksi maupun distribusi.
Dengan lebih dari 300 varian aroma, BestPerfume.Store mengadopsi strategi mass customization. Konsumen tidak hanya diberi banyak pilihan, tetapi juga dibantu untuk menemukan preferensi yang tepat melalui kuis interaktif, kategori berbasis intensitas dan gaya hidup, dan tester strips gratis.
Pendekatan ini coba memperlihatkan bagaimana brand memanfaatkan platform digital untuk dapat menggantikan pengalaman toko fisik, sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Langkah ini juga relevan dengan perubahan perilaku konsumen, di mana keputusan pembelian semakin dipengaruhi oleh pengalaman yang dipersonalisasi.
Adapun salah satu pendekatan yang cukup agresif adalah jaminan layanan yang ditawarkan. Bahkan dalam kasus ekstrem, seperti botol parfum yang pecah, perusahaan menyatakan kesiapannya untuk mengganti produk tanpa proses yang rumit.
Strategi ini jarang ditemui di kategori parfum, yang umumnya tidak menawarkan fleksibilitas tinggi dalam hal after-sales. Namun di sisi lain, pendekatan ini bisa menjadi cara atau strategi untuk membangun kepercayaan, terutama bagi konsumen baru.











