BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Meta Platforms dikabarkan tengah menyiapkan kembalinya teknologi pengenalan wajah, kali ini melalui perangkat kacamata pintarnya.
Langkah ini muncul lima tahun setelah perusahaan menghentikan fitur serupa di Facebook akibat kontroversi privasi dan tekanan hukum.
Menurut laporan internal yang beredar, proyek tersebut diberi nama sandi “Name Tag”.
Fitur ini memungkinkan pengguna mengidentifikasi seseorang dan mengakses informasi terkait melalui asisten AI yang terintegrasi di kacamata.
Perkuat Daya Saing Wearable AI
Inisiatif ini disebut sebagai bagian dari strategi Meta untuk memperkuat lini wearable di tengah persaingan perangkat berbasis AI yang semakin ketat. CEO Meta, Mark Zuckerberg, dilaporkan melihat teknologi pengenalan wajah sebagai pembeda utama di pasar kacamata pintar.
Sebelumnya, Meta sempat mempertimbangkan fitur serupa pada 2021 untuk lini Ray-Ban Meta smart glasses, namun dibatalkan karena pertimbangan teknis dan etika.
Dalam dokumen internal pada Mei lalu, perusahaan disebut membahas potensi risiko keamanan dan privasi sebelum peluncuran. Salah satu rencana uji coba awal bahkan melibatkan peserta konferensi bagi penyandang tunanetra sebelum distribusi lebih luas.
Sorotan Privasi dan Risiko Penyalahgunaan
Rencana ini memicu kekhawatiran dari kelompok advokasi privasi. Mereka menilai penggunaan pengenalan wajah di ruang publik berpotensi mengancam anonimitas individu. Kritik juga mengarah pada kemungkinan penyalahgunaan oleh pemerintah, korporasi, maupun individu.
Beberapa kota dan negara bagian di AS sebelumnya telah membatasi penggunaan teknologi ini di ruang publik. Legislator dari Partai Demokrat bahkan sempat mendesak penghentian penggunaan facial recognition oleh lembaga penegak hukum di area publik.
Meta menyatakan bahwa fitur yang dikembangkan kemungkinan hanya akan mengenali kontak yang dikenal atau profil publik dalam ekosistem platformnya, bukan sebagai alat pencarian identitas universal.
Potensi Manfaat dan Bayang-Bayang Rekam Jejak
Di sisi lain, teknologi ini dinilai dapat membantu penyandang disabilitas penglihatan dengan memberikan informasi kontekstual secara real-time. Meta juga tengah mengembangkan konsep “super sensing” glasses yang dapat memantau lingkungan sekitar untuk membantu pengingat atau tugas harian.
Namun rekam jejak perusahaan dalam isu privasi masih menjadi sorotan. Meta sebelumnya membayar miliaran dolar dalam penyelesaian kasus terkait pengumpulan data wajah tanpa izin serta pelanggaran privasi lainnya.
Meski kacamata pintar Meta dilengkapi indikator LED untuk memberi tahu saat perekaman aktif, sejumlah pihak tetap mempertanyakan sejauh mana transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi dapat dijaga.
Jika terealisasi tahun ini, peluncuran fitur “Name Tag” berpotensi menjadi langkah paling kontroversial dalam evolusi perangkat wearable berbasis AI.











