Scroll untuk baca artikel
Industri

PPIJ Gelar Indonesia–Japan Executive Dialogue 2.0 Perkuat Arah Kemitraan

2
×

PPIJ Gelar Indonesia–Japan Executive Dialogue 2.0 Perkuat Arah Kemitraan

Sebarkan artikel ini
Dalam momentum menuju 100 tahun hubungan Indonesia–Jepang pada 2058, Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Jepang (PPIJ) menegaskan perannya sebagai platform kepemimpinan Indonesia–Jepang dengan kembali menggelar Indonesia–Japan Executive Dialogue 2.0, forum kepemimpinan strategis yang mempertemukan pemimpin dari sektor pemerintahan, dunia usaha, serta pemangku kebijakan strategis kedua negara

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Menyongsong 100 tahun hubungan Indonesia–Jepang pada 2058, Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Jepang (PPIJ) kembali menggelar Indonesia–Japan Executive Dialogue 2.0, sebuah forum kepemimpinan strategis yang mempertemukan pemimpin pemerintahan, dunia usaha, serta pemangku kebijakan dari kedua negara.

Berbeda dari edisi sebelumnya, dialog yang diselenggarakan secara tertutup (closed-door) ini menandai pergeseran fokus kerja sama bilateral, dari sekadar mendorong arus investasi menuju pembahasan yang lebih mendasar mengenai fondasi kepercayaan, kredibilitas kebijakan, dan arsitektur ekonomi yang menopang kemitraan jangka panjang Indonesia–Jepang.

Forum ini menghadirkan Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Umum PPIJ sekaligus Ketua Liga Parlemen Indonesia–Jepang Rachmat Gobel, serta Chargé d’Affaires ad interim Jepang untuk Indonesia Mitsuru Myochin. Dialog mengusung tema “How Indonesia Builds Credibility from Within to Support Long-Term Japanese Investment”.

Pergeseran fokus dialog dinilai relevan di tengah ketidakpastian global yang dipicu dinamika geopolitik, disrupsi rantai pasok, krisis iklim, serta percepatan transisi ekonomi dan energi. Dalam konteks ini, keputusan investasi jangka panjang semakin ditentukan oleh kualitas tata kelola internal, disiplin fiskal, dan konsistensi kebijakan, bukan semata oleh potensi pasar atau insentif jangka pendek.

Baca Juga :   WINGS Food Luncurkan MILKU Original, Varian Baru Produk Susu UHT

Dari perspektif Jepang, Indonesia tetap dipandang sebagai destinasi investasi strategis di kawasan. Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dalam Annual Survey FY2024 menempatkan Indonesia di peringkat keempat negara paling menjanjikan bagi pengembangan bisnis perusahaan Jepang dalam jangka menengah. Penilaian ini didukung oleh kekuatan pasar domestik, stabilitas pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur dan digitalisasi, biaya produksi yang kompetitif, serta peluang besar dalam transisi energi dan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.

Meski demikian, realisasi investasi Jepang di Indonesia pada 2024 tercatat USD 3,46 miliar, mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah Indonesia memandang kondisi ini sebagai momentum strategis untuk memperkuat kualitas kemitraan melalui kolaborasi yang lebih bernilai tambah dan berorientasi jangka panjang. Indonesia–Japan Executive Dialogue 2.0 menjadi ruang strategis untuk merespons tantangan tersebut.

Dalam forum ini, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa stabilitas fiskal dan prediktabilitas kebijakan merupakan fondasi utama dalam menjaga kepercayaan investor jangka panjang. Pengelolaan APBN dijalankan secara disiplin dengan defisit terjaga dan rasio utang pemerintah di kisaran 38–39 persen terhadap PDB, sehingga stabilitas makroekonomi tetap terpelihara sekaligus menyediakan ruang fiskal bagi pembangunan strategis.

Baca Juga :   Sinarmas Asset Management Gandeng Bahana Sekuritas Perluas Akses Reksa Dana

Pendekatan ini diperkuat dengan komitmen terhadap kesinambungan kebijakan lintas pemerintahan, sebuah aspek krusial bagi investor Jepang yang umumnya memiliki horizon investasi 20–30 tahun. Kebijakan fiskal dan ekonomi dirancang sebagai kerangka jangka panjang yang konsisten, bukan respons reaktif terhadap dinamika jangka pendek.

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kredibilitas kebijakan menjadi fondasi utama investasi jangka panjang. Menurutnya, kepastian pengelolaan negara yang disiplin dan konsisten menjadi faktor kunci bagi mitra strategis seperti Jepang dalam mengambil keputusan investasi lintas dekade.

Sementara itu, Rachmat Gobel menekankan bahwa tantangan menuju satu abad hubungan Indonesia–Jepang bukan hanya menarik investasi, melainkan membangun arsitektur kepercayaan agar investasi dapat tumbuh, bertahan, dan memberi manfaat jangka panjang bagi kedua negara. Ia menegaskan peran PPIJ sebagai platform strategis untuk menyelaraskan kemitraan bilateral dengan agenda transformasi ekonomi nasional.

Baca Juga :   Presiden Prabowo Gaspol Hilirisasi Nasional, Target Investasi Tembus 45 Miliar Dolar AS

Sebagai bagian dari dukungan sektor swasta, Gobel Group menegaskan komitmennya dalam memperkuat kemitraan Indonesia–Jepang lintas generasi. Sejak menjalin kemitraan industri dengan perusahaan Jepang pada 1958, Gobel Group terus menjadi contoh kolaborasi jangka panjang berbasis kepercayaan, antara lain melalui pengembangan Indonesia International Automotive Proving Ground (IIAPG) bersama Toyota dan JOIN, serta Opus Park Sentul bersama Sumitomo Corporation dan Hankyu Hanshin Properties Corp.

Dukungan terhadap forum ini juga diperkuat oleh SMBC Indonesia, bagian dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC Group), yang merepresentasikan peran institusi keuangan Jepang dalam mendukung dialog strategis dan pembiayaan berkualitas.

Forum ini turut dihadiri oleh perwakilan lembaga dan korporasi Jepang, antara lain JBIC, JICA, JETRO, serta perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia seperti Marubeni, Itochu, Mitsubishi Corporation, Mitsui & Co., Sumitomo, Sojitz, Toyota Tsusho, Taisei Corporation, Suzuki Indomobil Motor, dan Lida Group Holdings.