BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Memasuki 2026, industri kesehatan Indonesia bergerak menuju fase yang semakin matang dan selektif. Pertumbuhan sektor ini tidak lagi bertumpu pada ekspansi agresif atau peningkatan volume pasien semata, melainkan pada kemampuan penyedia layanan dalam menjaga kualitas layanan, keselamatan pasien, serta keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Sejalan dengan dinamika tersebut, pemerintah terus memperkuat sektor kesehatan melalui peningkatan alokasi anggaran dalam APBN 2026.
Dukungan ini diarahkan untuk memperkuat program strategis nasional, mulai dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), cek kesehatan gratis, revitalisasi fasilitas layanan kesehatan, hingga penanganan isu kesehatan prioritas.
Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan akses dan keterjangkauan layanan secara bertahap, sekaligus mendorong kesiapan penyedia layanan kesehatan dalam ekosistem nasional yang semakin terintegrasi.
Perubahan Demografi Dorong Layanan Terintegrasi
Perubahan struktur demografi turut mempercepat pergeseran arah industri. Meningkatnya populasi keluarga muda di perkotaan, bertambahnya kelompok usia lanjut, serta prevalensi penyakit kronis yang kian tinggi mendorong kebutuhan layanan kesehatan yang terintegrasi dan berkesinambungan.
Pola kebutuhan layanan kini terbentuk berdasarkan siklus hidup, mulai dari layanan ibu dan anak hingga penanganan medis kompleks pada fase lanjut kehidupan. Kondisi ini menuntut rumah sakit untuk tidak sekadar menambah kapasitas, tetapi membangun sistem layanan yang konsisten, terintegrasi, dan berorientasi jangka panjang.
BMHS Fokus pada Mutu dan Diferensiasi Layanan
President Director PT Bundamedik Tbk (BMHS – Bundamedik Healthcare System), Agus Heru Darjono, menilai bahwa dinamika industri kesehatan yang semakin selektif perlu direspons dengan strategi yang tepat.
“Seiring industri kesehatan memasuki fase yang semakin matang, diferensiasi tidak lagi ditentukan oleh kecepatan ekspansi, melainkan oleh konsistensi dalam menjaga mutu layanan dan keselamatan pasien secara berkelanjutan,” ujar Agus.
BMHS, lanjutnya, tidak hanya berfokus pada perluasan kapasitas, tetapi juga pada pengembangan layanan yang terintegrasi, berkesinambungan, dan relevan dengan kebutuhan kesehatan keluarga di setiap fase kehidupan.
Layanan Medis Kompleks Jadi Fokus Strategis
Meningkatnya kompleksitas kebutuhan medis turut membentuk lanskap industri kesehatan yang semakin menuntut kesiapan layanan tingkat lanjut dan spesialistik. Peningkatan usia harapan hidup, prevalensi penyakit kronis, serta ekspektasi pasien terhadap penanganan yang lebih presisi mendorong rumah sakit untuk “naik kelas”.
Merespons hal tersebut, BMHS menempatkan pengembangan layanan medis kompleks sebagai salah satu fokus strategis melalui penguatan kapabilitas klinis dan pemanfaatan teknologi medis presisi secara bertahap dan terukur. Sepanjang 2025, BMHS berhasil menghadirkan berbagai layanan medis kompleks, termasuk transplantasi ginjal serta Robotic Skin Sparing Mastectomy pertama di Asia Tenggara.
“BMHS secara konsisten membangun kapabilitas layanan medis kompleks yang ditopang SDM mumpuni dan teknologi presisi, termasuk robotic surgery pada kasus tertentu,” kata Agus.
Target Pertumbuhan Sehat dan Berkelanjutan
Di tengah tantangan peningkatan biaya operasional dan kebutuhan investasi jangka panjang, efisiensi dan disiplin finansial menjadi kunci menjaga keberlanjutan industri kesehatan. Dalam konteks ini, BMHS optimistis dapat mencatatkan pertumbuhan pendapatan double digit pada 2026 dengan tetap menjaga profitabilitas dan arus kas yang sehat.
Strategi tersebut dijalankan melalui optimalisasi aset eksisting, termasuk penambahan kapasitas tempat tidur secara bertahap hingga 2027, tanpa mengorbankan standar mutu layanan dan keselamatan pasien.
“Kami melihat 2026 sebagai momentum untuk mengonsolidasikan pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada efisiensi dan nilai tambah jangka panjang,” ujar Agus.
Penguatan Layanan Ibu dan Anak Jadi Fondasi
Sejalan dengan perubahan demografi, BMHS menegaskan komitmen untuk terus memperkuat layanan unggulan ibu dan anak sebagai fondasi continuity of care. Fokus ini menjadi titik awal layanan terintegrasi, dari fase awal kehidupan hingga kebutuhan medis lanjutan.
Komitmen tersebut tercermin melalui fasilitas komprehensif Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSIA Bunda Jakarta, yang secara konsisten melayani rata-rata 250–300 bayi berisiko tinggi per tahun.
Inovasi, Riset, dan Tata Kelola Jadi Penopang
Selain penguatan layanan klinis, BMHS memandang transformasi industri kesehatan harus ditopang oleh pengembangan keilmuan dan praktik berbasis bukti. Melalui penguatan riset, publikasi ilmiah, pengabdian masyarakat, serta tata kelola dan perlindungan data yang solid, BMHS menegaskan arah pertumbuhan yang terukur dan berkelanjutan.
“Di tengah industri yang semakin selektif, BMHS berfokus pada kualitas layanan, inovasi, dan integrasi ekosistem sebagai fondasi keberlanjutan jangka panjang perusahaan,” tutup Agus.











