Indonesia Outlook 2023: Mematok Target Lebih Tinggi

Gedung perkantorran di DKI Jakarta (Foto: Safar)

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Indonesia telah menetapkan sasaran lebih tinggi, ditandai tidak hanya dengan keberhasilan sebagai tuan rumah G20 yang baru saja berakhir, tetapi juga untuk mengejar ambisi ekonomi lebih besar, terutama di industri hilir berbasis sumber daya. Indonesia, pasar negara berkembang terbesar keenam berdasarkan atas PDB, membuat kemajuan berarti dalam menarik investasi asing (lihat laporan), mengubah orientasinya menjadi pemain komoditas bernilai tambah, basis konsumen digital besar, dan dipandang sebagai salah satu lokasi sehat dan maju untuk inkubator teknologi era baru di kawasan.

Perekonomian Indonesia akan mendapat manfaat dari pertemuan berbagai katalis menguntungkan, termasuk pembukaan kembali sektor jasa, persyaratan perdagangan komoditas menguntungkan, stabilitas eksternal, dan inflasi terkendali (kecuali lonjakan di sisi penawaran akibat kenaikan harga bahan bakar) pada 2022. Permintaan diperkirakan akan kembali normal mengingat faktor pendorong positif ini akan sirna pada tahun depan. Namun demikian, kami tetap memperkirakan dampak tertunda dari keuntungan dari komoditas, yang akan mengurangi pengangguran, dan pemulihan sektor jasa, termasuk pariwisata, untuk mendukung daya beli rumah tangga. Upah minimum akan dinaikkan hingga 10% pada 2023, setelah dua tahun naik di bawah 2% dan mungkin akan tetap tinggi pada 2024, tahun pemilihan umum.

Sentimen bisnis tetap kuat, dan tingkat pemanfaatan kapasitas telah pulih. Pertumbuhan kredit kemungkinan akan terus berlanjut secara kuat, didukung oleh likuiditas rupiah cukup saat rasio pinjaman terhadap simpanan berkisar di 81-82%, di bawah tingkat sebelum pandemi dan biaya pinjaman belum mencerminkan kenaikan suku bunga. Bias pro investasi pemerintah juga diharapkan dapat membantu karena pemotongan subsidi BBM membuka ruang untuk anggaran belanja pembangunan lebih besar.

DBS Flash: Indonesia Cegah Imbas Ketidakpastian Perekonomian Global

Perdagangan barang berjalan sangat baik sepanjang 2022 berkat kenaikan harga (dan volume) minyak sawit, bijih besi, batu bara, nikel, dan lain-lain, dengan surplus perdagangan dalam sepuluh bulan pertama tahun ini naik 50% secara tahunan. Dengan sebagian besar kelompok komoditas turun dari tingkat tertingginya pada paruh kedua 2022, kami memperkirakan harga berbagai komoditas ini akan kembali normal pada 2023, namun tidak kembali ke tingkat sebelum pandemi. Pembukaan kembali secara bertahap di Tiongkok diperkirakan menjadi alasan lain untuk menandai lantai bursa untuk komoditas logam dan besi, yang menguntungkan Indonesia. Karena tidak ada kenaikan tajam, kami perkirakan perdagangan bersih menjadi kontributor lebih kecil untuk pertumbuhan keseluruhan pada 2023 setelah menyumbang rata-rata 25% sejak triwulan pertama hingga triwulan ketiga 2022. Kami mematok pertumbuhan 2023 sebesar 5%, turun dari 5,4% pada tahun ini.

Kenaikan tajam harga BBM bersubsidi membuat inflasi utama melampaui target inflasi, yang sebesar 2-4%, pada paruh kedua 2022. Untuk paruh pertama 2023, DBS Group Research memperkirakan angka lebih tinggi dan paruh kedua akan menurun karena unsur dasar dan imbasan dampak tidak langsung bersifat ringan. BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk terakhir kali menjadi 5,75%, serta mendukung mata uang. Stabilitas makro ditopang oleh potensi surplus transaksi berjalan untuk tahun kedua berturut-turut pada 2022 (DBSf: 0,7% dari PDB), diikuti dengan perkiraan defisit kecil (-0,5%) tahun depan karena pendapatan ekspor menurun. Setelah menjaga ambang defisit dan utang yang diamanatkan secara hukum selama pandemi, batas atas tertinggi akan diterapkan kembali pada 2023. Oleh karena itu, defisit tahun 2023 diproyeksikan mencapai -2,84% dari PDB, di bawah batas atas 3% dari perkiraan -3,5% dari PDB tahun ini.(BA-06)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini