Bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin, Monash University Terbitkan Model untuk Ukur Dampak Kebijakan Selama Pandemi

Monash University

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Australia-Indonesia Centre telah menerbitkan laporan yang ditulis bersama oleh para peneliti Monash University dengan peneliti Universitas Hasanuddin, Makassar tentang model matematika yang dapat mengukur dampak dari kebijakan yang berfokus pada kesehatan yang dibandingkan dengan kebijakan yang berfokus pada ekonomi selama pandemi.

Temuan tersebut dihasilkan oleh Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR), sebuah program inisiatif riset besar di bawah naungan Australia-Indonesia Center, yang juga didukung oleh pemerintah Australia. PAIR mempertemukan 11 universitas dari Australia dan Indonesia untuk dapat melihat hasil temuan secara langsung tentang isu-isu sosial dan ekonomi yang menjadi kunci di masa pandemi, untuk kemudian dapat digunakan dalam pembuatan kebijakan.

Profesor Andreas Ernst dari Monash University mengatakan, “Penelitian baru ini mengintegrasikan model ekonomi dan epidemiologis ke dalam satu kerangka kerja untuk memungkinkan pertukaran yang lebih eksplisit antara kedua masalah. Metode ini memberikan cara untuk mempelajari ketegangan antara pertimbangan ekonomi dan kesehatan secara objektif.”

Laporan yang berjudul ‘Health or economy in Indonesia? Making the best impossible decision during COVID-19’ berfokus pada delapan wilayah di Indonesia (Bali, Indonesia Timur, Jakarta, Jawa, Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan Sumatera).

Menurut para peneliti, kejatuhan ekonomi yang tajam dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan yang lebih buruk bagi Indonesia daripada COVID-19. Namun model tersebut juga mengungkapkan bahwa banyak solusi lain yang melibatkan tindakan kesehatan masyarakat menawarkan konsekuensi yang berbeda, yang juga berpotensi untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.

“Studi ini menunjukkan bahwa ada opsi lain bagi pembuat kebijakan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Dengan memanfaatkan keahlian para peneliti dari beberapa bidang dan analisa data kesehatan dan ekonomi, opsi alternatif dapat terlihat lebih jelas.” ujar dosen senior dan peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar, Dr Sudirman Nasir.

Mendikbudristek Resmikan Monash University di BSD City sebagai Perguruan Tinggi Luar Negeri Pertama di Indonesia

Dalam laporan ini, terdapat tiga hipotesis kebijakan kesehatan:

  • Kebijakan do-nothing, disebut ‘none’, menunjukkan tingkat infeksi tertinggi tetapi tidak ada perubahan permintaan ekonomi atau tingkat produksi;
  • Kebijakan ‘light’ atau ringan yang menempatkan beberapa pembatasan pada sektor jasa dan perdagangan dan hotel tetapi dapat menurunkan tingkat penularan;
  • Kebijakan yang jauh lebih ketat tetapi lebih efektif, ‘medium’, yang menempatkan pembatasan pada konstruksi, manufaktur, dan transportasi dan komunikasi selain meningkatkan pembatasan pada industri jasa, perdagangan, dan hotel.

Model penelitian ini nantinya diharapkan dapat digunakan untuk mengelola pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung ataupun wabah kesehatan lainnya yang mungkin terjadi di masa depan.

Dr Pierre Le Bodic, Dosen Senior di Monash University di Departemen Ilmu Data & Kecerdasan Buatan, menambahkan, “Meskipun pandemi dan aktivitas ekonomi selama pandemi telah dipelajari secara ekstensif, hingga saat ini tidak banyak yang membahas kedua topik tersebut secara bersamaan. Kami kira model ini bisa menjadi alat yang berharga bagi pembuat kebijakan, tidak hanya selama COVID-19 tetapi juga dalam krisis kesehatan lainnya di masa depan.”

Ke depannya, Monash University akan terus melakukan kolaborasi antar sektor untuk mendukung kemajuan pendidikan tinggi Indonesia, serta memberikan kontribusi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan teknologi Indonesia. Hal ini sesuai dengan komitmen Monash saat menjadi kampus asing pertama yang hadir di Indonesia sejak 2021 lalu.(BA-06)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini