“Now & Beyond TV Forum”: Hidup Berdampingan Tanpa Saling Menyakiti, Bergerak Searah tanpa saling merintangi

Ilustrasi

BISNISASIA.CO.ID, BEIJING – Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok (CPC) Ke-20 telah merumuskan cetak biru bagi Tiongkok pada periode lima tahun mendatang dan seterusnya. Apa maknanya bagi dunia? Apa yang dapat diharapkan dunia dari Tiongkok selama beberapa tahun ke depan? Dan, apa yang kelak dihadirkan modernisasi Tiongkok bagi komunitas global? CGTN menggelar diskusi panel berjudul “Now and Beyond”, dibawakan pembaca berita CGTN, Liu Xin, untuk membahas langkah berikutnya bagi Tiongkok dan dunia bersama pengambil keputusan dan pemikir global.

“Pesan sebenarnya yang disampaikan Tiongkok adalah multilateralisme,” ujar Profesor Jeffrey Sachs, Director, Center for Sustainable Development, Columbia University, ketika mengomentari liputan media Amerika Serikat (AS) yang bias terhadap kongres nasional. “Tiongkok sangat menginginkan dunia multilateral dalam naungan Piagam PBB. Tiongkok tidak menginginkan dominasi; atau konflik apa pun. Dan, pesan ini sangat jelas…Kita memerlukan dialog, kita memerlukan pemahaman yang lebih baik,” kata Profesor Sachs.

“Pesan utama Presiden Xi kepada dunia adalah Tiongkok ingin berkomitmen terhadap dunia yang damai dan mewujudkan prinsip hidup yang saling berdampingan secara damai,” ujar Profesor Xie Tao, Dekan, School of International Relations and Diplomacy, Beijing Foreign Studies University, senada dengan komentar Profesor Sachs. Dia juga menambahkan, “Tiongkok tidak memaksakan atau mengekspor nilai-nilai dan kelembagaannya kepada negara lain. Demikian halnya, Tiongkok tidak ingin negara lain memaksakan kehendaknya. Tiongkok memiliki populasi masif. Tiongkok pun sangat berbeda dari banyak negara lain. Dan, Tiongkok akan mencapai revitalisasi nasional lewat modernisasi gaya Tiongkok,” tekan Xie.

Modernisasi Tiongkok pertama kalinya tercantum dalam laporan untuk kongres nasional, dan hal tersebut menjadi cetak biru bagi masa depan Tiongkok. Martin Jacques, Senior Fellow, Department of Politics and International Studies, Cambridge University, menggarisbawahi, globalisasi gaya Amerika mengakibatkan kesenjangan yang tersebar di hampir segenap lapisan masyarakat. Dia mencatat, aspek utama dari modernisasi Tiongkok berkaitan dengan kesejahteraan umum, serta langkah Tiongkok untuk membalikkan tren kesenjangan tersebut, dan menciptakan lingkungan yang lebih setara serta berdampak luas di seluruh dunia. “Pada abad ke-21, segala hal yang baik bagi Tiongkok harus juga bermanfaat bagi dunia. Segala hal yang baik bagi dunia harus bermanfaat pula bagi Tiongkok. Kini, kita hidup pada abad ke-21, dan kita tinggal di planet yang sama,” kata mantan Menteri Luar Negeri Spanyol Arancha Gonzalez Laya.

Benyamin Poghosyan, Director, Center for Political and Economic Strategic Studies, berkata, upaya memecah belah dunia dan menjadikannya hitam atau putih, sangat mengkhawatirkan. Kekuatan menengah dan kecil mengapresiasi peran Tiongkok yang tidak melihat dunia dalam perspektif konfrontatif, sebab perpecahan tersebut mempersulit posisi kekuatan menengah dan kecil. Di tengah inflasi, krisis energi, krisis pangan, dan tantangan lain yang mengancam setiap orang, kerja sama antara kekuatan besar akan jauh lebih baik.

CGTN: Pembangunan bermutu tinggi jadi prioritas dalam modernisasi Tiongkok

Banyak negara tidak ingin memilih untuk berpihak pada Tiongkok dan AS, seperti dijelaskan mantan UN Environment Executive Director dan Under-Secretary-General, United Nations Erik Solheim. Menurut Duta Besar Afrika Selatan untuk Tiongkok Siyabonga Cyprian Cwele, banyak hal yang dapat dipelajari sebuah negara dari Tiongkok. Afrika Selatan dan negara lain tidak dapat dipaksa untuk memilih keberpihakannya, namun menerima pihak mana pun yang menghargai sistemnya, serta bermitra dengan mereka, seperti dijelaskan Cwele. Banyak negara menginginkan kemitraan, bukan paksaan.

“Anda dapat menjadi pemimpin dengan teladan, atau kemurahan hati, atau kerja sama multilateral; atau, Anda dapat memimpin dengan paksaan, predasi, dan aksi unilateral,” kata Profesor Xie. “Tiongkok jelas memilih rute pertama.” Menurutnya, kepemimpinan global Tiongkok berkaitan dengan upaya untuk memberikan manfaat bagi dunia, bukan klaim hegemoni.

“Seluruh makhluk hidup dapat hidup berdampingan tanpa saling menyakiti, dan jalan yang berbeda pun berdampingan tanpa saling merintangi,” kata Sekretaris Jenderal CPC Xi Jinping mengutip filosofi Konfusius dalam laporannya untuk Kongres Nasional CPC Ke-20. Di tengah dunia yang diliputi konflik dan perbedaan sehingga mematahkan kerja sama dan manajemen, sikap menghargai perbedaan dan mencari jalan tengah lebih dipilih oleh banyak negara. Tiongkok ingin menempuh jalur yang damai dalam modernisasi, serta menjalin kemitraan dengan komunitas global.(BA-06)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini