Commodity Outlook Q4 2022: Dampak Krisis Energi dan Konflik Geopolitik terhadap Komoditi

Ilustrasi

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Krisis global berturut-turut telah menciptakan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi negara-negara berkembang, mulai dari Covid-19, konflik geopolitik Rusia dan Ukraina, hingga perubahan iklim. Dampak yang paling terlihat adalah perlambatan paling tajam dalam kegiatan ekonomi dalam 80 tahun, meningkatnya inflasi, semakin cepatnya krisis pangan, konflik geopolitik yang lebih luas, hingga kemiskinan yang memburuk.

Menurut Research & Development ICDX, Girta Yoga, “Sepanjang kuartal III-2022, harga pangan dan inflasi Indonesia mengalami kenaikan. Harga pangan naik sebesar 12,14 YoY dan inflasi Indonesia naik sebesar 230,79% YoY. Namun yang patut untuk dibanggakan, meskipun pertumbuhan inflasi sangat drastis, Indonesia memiliki keuntungan yaitu dengan diseimbangi oleh pertumbuhan GDP yang positif. Sehingga isu-isu harga naik dan daya tarik beli yang menurun saat inflasi dapat diminimalisir.”

Sejak munculnya konflik geopolitik Rusia-Ukraina, Indonesia memang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) mengemukakan harga beberapa komoditas di tingkat global lebih rendah dibandingkan beberapa bulan terakhir. Harga minyak kelapa sawit turun cukup dalam pada periode Juni sampai dengan September 2022. Hal ini sesuai dengan tim Research and Development ICDX, yang mencatat pada Q3 lalu crude palm oil (CPO) mengalami penurunan harga sebesar 15,55%.

“Untuk proyeksi komoditas energi di kuartal-4 2022 adalah harga minyak berpotensi berpotensi menemui resistance pada kisaran harga USD110-120 per barel, dan untuk potensi support berada pada kisaran harga USD85-75 per barel. Sedangkan gas alam, potensi harganya ada di angka USD7.50-8.50 sedangkan nilai supportnya diperkirakan ada di USD5.50-4.50. Lalu untuk harga batubara, di kuartal-4 sendiri akan berada di kisaran harga USD475-500 per ton sedangkan untuk supportnya di proyeksikan akan menyentuh USD350-325 per ton,” tambah Yoga.

Selain krisis energi, inflasi yang tinggi juga menjadi salah satu penghambat pertumbuhan ekonomi global. Berdasarkan Bank Indonesia, stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga di tengah sangat kuatnya Dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Sementara itu, nilai tukar Rupiah sampai dengan 19 Oktober 2022 terdepresiasi 8,03% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021, relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya. Depresiasi tersebut sejalan dengan menguatnya Dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di berbagai negara, terutama AS untuk merespons tekanan inflasi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global, di tengah persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap positif.

ICDX Bersama B20 Indonesia Dorong Pemanfaatan Energi Terbarukan

“Inflasi di global masih membayangi, terlebih ke depan negara negara sub tropis akan mengalami musim dingin. Dimana energi akan berperan besar dalam aktivitas ekonomi rumah tangga. Pasti ke depannya jika harga energi semakin mahal dan semakin sulit didapatkan, maka akan mempengaruhi aktivitas ekonomi di berbagai negara dan akan berdampak langsung pada harga mata uang asing lainnya,” ujar Research & Development ICDX, Taufan Dimas Hareva.

Perkembangan harga komoditas emas juga masih menjadi salah satu yang menarik untuk dibahas. Inflasi global yang terjadi, keagresifan The Fed dalam membuat kebijakan untuk menekan inflasi, dan konflik geopolitik Rusia-Ukraina yang belum berakhir masih menjadi penyumbang gejolak harga emas. Pada tahun 2022 ini, meskipun sempat mengalami penguatan, harga emas cenderung mengalami penurunan hingga akhir kuartal III.

“Harga emas global terlihat condong menurun sejak awal tahun, hal tersebut dipengaruhi oleh tiga hal yaitu Kebijakan The Fed, inflasi global, serta Konflik Rusia Ukraina. Meskipun inflasi Amerika telah mengalami penurunan, hal tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan The Fed. Sehingga hal tersebut memunculkan akan adanya kebijakan baru oleh The Fed yang dapat mempengaruhi harga emas. Selain itu, konflik Ukraina-Rusia juga menjadi faktor penggerak harga emas. Dapat diprediksikan bahwa, jika konflik tersebut membaik, harga emas akan tertekan. Namun, jika konflik memburuk, harga emas diprediksi akan naik,” tutup Research and Development ICDX, Revandra Aritama.(BA-06)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini