Penyesuaian Harga BBM, Inflasi melonjak!

Ilustrasi (Foto: Pixabay)

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Inflasi pada bulan September melonjak ke 5,95% secara tahunan (DBSf: 5,9%) dari 4,7% pada bulan sebelumnya dan mendekati perkiraan pasar. Ini merupakan dampak dari penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada awal bulan. Secara bulanan, laju kenaikan melonjak dari -0,2% pada Agustus menjadi 1,2% pada September, kenaikan tertinggi sejak 2014. Inflasi untuk harga yang diatur pemerintah meningkat 13,3% secara tahunan di samping indikator energi yang naik 16,5% secara tahunan akibat kenaikan harga. Harga pangan yang tidak stabil (volatile) juga mengalami sedikit peningkatan.

Di antara berbagai sub-komponen, kenaikan paling tinggi tercatat di sektor transportasi, +16% secara tahunan, jika dibandingkan dengan 6,6% pada Agustus, dengan makanan (cabai, telur, dan-lain-lain), utilitas, kesehatan, dan rekreasi juga mengalami peningkatan pada bulan ini. Dari sisi kontribusi, transportasi menyumbang 89% terhadap kenaikan inflasi secara keseluruhan. Sebagai contoh, biaya jasa taksi online juga dinaikkan untuk merefleksikan biaya operasi lebih tinggi. Bersamaan dengan itu, tarif listrik lebih tinggi untuk beberapa kapasitas juga berdampak pada kenaikan harga beberapa sub-komponen. Inflasi inti juga meningkat menjadi 3,2% secara tahunan namun dengan laju lebih lambat jika dibandingkan dengan perkiraan. Dengan beberapa provinsi belum mencerminkan kenaikan harga BBM dalam biaya transportasi lokal, DBS Group Research memperkirakan dampak terhadap segmen lain dan dampak tidak langsung (susulan) juga akan merembes ke triwulan keempat 2022. Perlu dicatat, harga minyak mentah Indonesia ditetapkan berada di bawah $100 per barel (pb) untuk Agustus dan kemungkinan akan tetap stabil pada September. Harga bahan bakar tertentu yang tidak disubsidi juga turun sedikit. Bersamaan dengan itu, harga pangan juga menurun karena pasokannya sudah stabil, yang menurut perkiraan DBS Group Research bisa membantu menurunkan inflasi di bawah rata-rata 5% untuk setahun penuh.

Kebijakan Subsidi Pemerintah Akan Jadi Faktor Kunci yang Pengaruhi Inflasi Tahun Ini

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan BI 7-day repo rate sebesar 50 basis poin (bp) menjadi 4,25% pada September, lebih besar dari perkiraan. Arah kebijakan tidak akan lunak mengingat risiko dua arah, yakni a) inflasi domestik diperkirakan meningkat akibat dampak langsung dan tidak langsung dari kenaikan harga bahan bakar bersubsidi, b) tekanan pada mata uang akibat dolar AS kuat karena kebijakan tidak bersahabat Bank Sentral AS, terlepas dari neraca perdagangan kuat. Ketahanan dalam tren pertumbuhan juga mendorong pembuat kebijakan untuk melakukan tindakan kebijakan agresif dan melakukan hampir semua tindakan tersebut secara dini ketimbang melakukannya secara berangsur-angsur. DBS Group Research memperkirakan kenaikan BI rate 75bp (setidak-tidaknya) pada akhir 2022 menjadi 5% dengan risiko peningkatan di luar ekspektasi. Untuk obligasi, bank sentral mengindikasikan bahwa ada kemungkinan Operasi Twist (strategi kebijakan moneter untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan suku bunga jangka panjang) kemungkinan akan dilanjutkan untuk mengendalikan suku bunga jangka panjang, seraya memungkinkan suku bunga jangka pendek menyesuaikan diri dengan likuiditas dan perubahan kebijakan.(BA-06)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini