Kontrak Layanan IoT dengan Menggunakan EtaPRO™ untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Indonesia Telah Disepakati

PLTP Patuha

BISNISASIA.CO.ID, KAWASAKI – Toshiba Energy Systems & Solutions Corporation (disingkat “Toshiba ESS”), melalui anak usahanya di Indonesia, Toshiba Asia Pacific Indonesia, yang bergerak di bidang bisnis energi dan infrastruktur, telah menyepakati kontrak kerja sama dengan PT Geo Dipa Energi (Persero) (disingkat “GDE”). Melalui kontrak ini, Toshiba ESS menyediakan layanan IoT yang memperbaiki tingkat penggunaan fasilitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Patuha[1]. Layanan tersebut menggunakan teknologi IoT dan kecerdasan buatan (AI), termasuk diagnosa kerusakan secara prediktif (predictive failure diagnosis) dan pemantauan kinerja PLTP. Kontrak ini merupakan aplikasi Layanan IoT secara komersial pertama yang dilakukan Toshiba ESS untuk PLTP.

Layanan ini adalah versi komersial dari proyek percontohan NEDO (New Energy and Industrial Technology Development Organization) untuk PLTP Patuha pada Oktober 2019[2]. Proyek percontohan ini membuktikan efektivitas teknologi predictive failure diagnosis yang berbasiskan komputasi awan dari Toshiba ESS, serta turut mendukung keputusan untuk melakukan kontrak kerja sama. Sistem yang tersedia lewat layanan ini menggunakan EtaPRO™[3], perangkat lunak yang diakuisisi Toshiba ESS tahun lalu. Proyek ini merupakan penggunaan komersial EtaPRO™ yang pertama di dunia untuk PLTP.

Sistem tersebut memiliki keunggulan teknologi dengan memanfaatkan AI dalam menganalisa data operasi pembangkit listrik secara seketika dari beragam sensor. Sistem tersebut juga mendeteksi tanda-tanda anomali yang berpotensi menimbulkan gangguan pada operasi normal. Dengan demikian, sistem tersebut mengurangi frekuensi dan durasi penghentian operasi pembangkit listrik; proyek percontohan yang dilaksanakan NEDO menunjukkan, sistem tersebut mampu mengurangi frekuensi gangguan hingga lebih dari 20%. Fitur unggulan lainnya adalah kemampuan sistem mendeteksi tanda-tanda anomali sesuai dengan kondisi spesifik di PLTP, seperti kondisi aliran uap yang tidak stabil menuju turbin sebagai insiden yang tidak terjadi di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Di Indonesia, kapasitas terpasang pembangkit listrik secara keseluruhan mencapai sekitar 62 GW pada 2020. Setengah dari kapasitas terpasang ini merupakan pembangkit listrik tenaga uap (batubara). Di sisi lain, sesuai Kesepakatan Paris, pemerintah Indonesia bertekad mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030. Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), tambahan kapasitas PLTP mencapai 3,4 GW (sekitar 8%) dari kapasitas pembangkit listrik total sebesar 40,6 GW yang akan terpasang pada 2030[4]. Toshiba ESS telah memasok peralatan untuk beberapa PLTP di Indonesia. Terlebih lagi, Toshiba ESS akan proaktif menawarkan solusi IoT yang mendukung operasi PLTP secara optimal, sehingga mengatasi isu yang dihadapi pelanggan, baik pada masa kini maupun masa mendatang.

Dengan menerapkan layanan ini di seluruh dunia, Toshiba ESS ingin mengurangi biaya yang dikeluarkan pelanggan untuk memproduksi listrik. Maka, Toshiba ESS turut memperbaiki tingkat penggunaan pembangkit listrik, serta mempromosikan PLTP dan ikut membantu mencapai netralitas karbon.(BA-06)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini