Pavel Durov Utarakan Mengenai “proses peninjauan” yang Dikenakan pada Semua Aplikasi Seluler

Telegram

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Founder dan CEO Telegram Pavel Durov mengutarakan pendapatnya mengenai “proses peninjauan” yang dikenakan pada semua aplikasi seluler oleh perusahaan-perusahaan teknologi yang memonopoli industri. Berikut merupakan pesan darinya yang telah diunggah pada Channel Telegram Durov.

“Saya mencintai pekerjaan saya. Apakah ada yang lebih menarik daripada meningkatkan kualitas cara berkomunikasi ratusan juta orang? Anggota tim kami, termasuk saya sendiri, mungkin merupakan beberapa orang paling beruntung di dunia ini.”

Satu-satunya hal yang dapat menyurutkan semangat kami adalah pembatasan yang seringkali kami hadapi saat ingin mendistribusikan versi terbaru dari Telegram, akibat dari “proses peninjauan” yang kurang jelas yang diterapkan pada semua aplikasi seluler oleh perusahaan-perusahaan teknologi yang memonopoli industri.

Misalnya, update kami yang akan datang – yang akan merevolusi cara orang mengekspresikan diri dalam chat – telah tertahan dalam “proses peninjauan” Apple selama dua minggu, tanpa penjelasan atau umpan balik apa pun yang diberikan oleh Apple.

Jika Telegram, salah satu dari 10 aplikasi terpopuler secara global, diperlakukan seperti ini, kita hanya bisa membayangkan kesulitan yang dialami oleh para developer aplikasi yang masih berkembang. Hal ini tidak hanya memberatkan hati: tetapi juga menyebabkan kerugian finansial secara langsung kepada ratusan ribu aplikasi seluler secara global.

Hari Persahabatan Sedunia 2022: Buat Sahabatmu Merasa Spesial dengan Sticker Animasi dan Emoji Interaktif dari Telegram

Kerugian ini menambah pada pajak 30% yang diambil Apple dan Google dari pengembang aplikasi – yang menurut mereka, seharusnya membayar sumber daya yang dibutuhkan untuk meninjau aplikasi. Regulator di Uni Eropa (UE) dan di tempat lain perlahan-lahan mulai melihat praktik-praktik yang tidak adil ini. Namun, kerusakan ekonomi yang telah ditimbulkan oleh Apple pada industri teknologi tidak akan dapat diurungkan.”

Kekhawatiran Durov merupakan hal yang sangat relevan dengan situasi di Indonesia, karena proses-proses yang menghambat berbagai aplikasi dalam berinovasi dapat menjadi halangan bagi pencapaian target-target digitalisasi nasional. Salah satu program strategis Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk 2022 adalah pemanfaatan TIK untuk menciptakan ekosistem serta ruang digital yang aman dan produktif. Untuk mencapai tujuan tersebut, antara lain, Kominfo sangat mendukung pengembangan startup digital melalui program pelatihan bagi talenta digital, pendampingan startup digital, dan berbagai inisiatif lainnya. Setelah startup-startup bangsa sudah menciptakan berbagai inovasi melalui aplikasi mereka, “proses peninjauan” perusahaan teknologi penyedia platform pun penting untuk dipertimbangkan lebih lanjut.(BA-06)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini