Era Transformasi dari Pandemi Menuju Endemi

Ilustrasi

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Banyak pihak tak bertanggung jawab yang menyebarkan kabar bohong atau hoaks untuk kepentingan tertentu. Hoaks disebar lewat media sosial atau beragam layanan pesan instan. Hoaks bisa dilawan dengan pemahaman literasi digital yang baik agar tidak timbul kerugian.

Demikian yang dibahas dalam webinar bertema “Bersama Lawan Kabar Bohong” yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi, Jumat (15/7), di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Acara yang dipandu Reni Risty selaku moderator tersebut menghadirkan narasumber Ketua Relawan TIK Sleman sekaligus Anggota MAFINDO Jogja CEO BerDigitaL.com Azzam Muhammad Bayhaqi; Relawan Edukasi Anti hoaks Indonesia Wildan; dan Al Akbar Rahmadillah selaku Founder Sobat Cyber Indonesia.

Dalam webinar tersebut, Azzam Muhammad Bayhaqi menjelaskan kata hoaks berawal dari ‘hocus pocus’ yang berasal dari Bahasa Latin ‘hoc est corpus’ yang memiliki arti ‘ini adalah tubuh.’ Kemudian, ia turut menyertakan beberapa situs yang dapat digunakan untuk mengecek apakah suatu berita adalah hoaks atau bukan.

“Kalau teman-teman ingin memverifikasi sosial media, jangan percaya dengan akun-akun palsu yang menyamar seperti kita. Saya juga pernah menjadi korban. Ia mengambil foto saya dan data saya. Biasanya data tersebut dicuri dari orang lain. Kemudian, bisa saja menggunakan foto lain dengan data lain. Hati-hati temen-temen, jangan mudah percaya akun seperti itu. Bisa saja ia menggunakan akun tersebut untuk menyebarkan hoaks,” tuturnya.

Dukung Literasi Digital, Kemenkominfo Bersama Siberkreasi dan Spotify Hadirkan Rangkaian Kelas Podcast Parenting dan Anak

Terkait etika digital, Wildan menuturkan ciri-ciri berita hoaks sembari menunjukkan contoh-contohnya yang tertera pada layar presentasi, di antaranya yaitu memiliki judul yang bombastis dan sensational, adanya judul provokatif yang menimbulkan ketakutan dan permusuhan, sumbernya tidak jelas, dan disertai dengan kata-kata seperti ‘amin’, ‘klik’, ‘bagikan’, dan ‘masuk surga.’

“Walaupun awalnya sebenarnya kadang kita sebagai netizen iseng-iseng membagikan konten, tetapi kita tidak melihat dampak setelah itu terhadap konten atau berita yang kita bagikan. Saran saya, jangan termakan umpan yang diberikan oleh netizen lain dan kawan-kawan,” katanya.

Pada sesi terakhir, Al Akbar Rahmadillah menggarisbawahi bahwa seharusnya orang-orang yang menggunakan ruang digital seperti media sosial tidak hanya digunakan untuk memuaskan diri sendiri, tetapi kita juga harus meningkatkan keterampilan digital untuk kedepannya. Menurutnya, tulang punggung kita saat ini ada di internet dan ruang digital sehingga apabila pemerintah memiliki agenda untuk meningkatkan transformasi digital, hal tersebut merupakan suatu hal yang benar.

Akbar mengungkapkan, “Disaat kita sudah masuk pandemi, kita sudah bertransformasi. Saat kita sudah bertransformasi dari pandemi menuju endemi, kita sudah terdorong kebiasaan baru atau new normal. Jadi, ruang publik bertransformasi menjadi ruang digital, dimulai dari sekolah, cara kita mencari makan, dll.”(BA-06)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini