Survei PwC: Pengunduran diri besar-besaran akan berlanjut seiring adanya tekanan pada kenaikan gaji

Ilustrasi (Foto: Pixabay)

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Pengunduran Diri Besar-Besaran (The Great Resignation) akan berlanjut dengan cepat di tahun ke depan karena satu dari lima pekerja mengatakan kemungkinan mereka akan beralih ke pemberi kerja baru dalam kurun waktu 12 bulan ke depan. Hal ini merupakan temuan utama dari survei PwC Global Workforce Hopes and Fears terhadap 52.195 pekerja di 44 negara dan wilayah – salah satu survei terbesar yang pernah dilakukan terhadap tenaga kerja global. Survei menemukan bahwa 35% berencana untuk meminta lebih banyak uang kepada pemberi kerja mereka dalam 12 bulan ke depan. Tekanan terhadap gaji menjadi faktor tertinggi dalam sektor teknologi, di mana 44% pekerja yang disurvei berencana meminta kenaikan gaji, dan terendah dalam sektor publik (25%).

Sementara itu, kenaikan gaji menjadi motivator utama untuk melakukan perubahan pekerjaan (71%), menginginkan pekerjaan yang memuaskan (69%), dan keinginan untuk benar-benar menjadi diri sendiri di tempat kerja (66%). Melengkapi 3 hal teratas yang dicari pekerja, hampir dari setengah (47%) memprioritaskan untuk dapat memilih di mana mereka bekerja.

Pekerja yang berkemungkinan untuk mencari pemberi kerja baru dalam kurun waktu 12 bulan ke depan, cenderung tidak merasa puas dengan pemberi kerja mereka saat ini. Dibandingkan dengan mereka yang tidak berniat untuk berganti pekerjaan, yang mereka rasakan antara lain adalah:

  • 14 poin persentase lebih kecil kemungkinannya untuk menemukan pekerjaannya memuaskan
  • 11 poin persentase lebih kecil kemungkinannya untuk merasa bahwa mereka benar-benar dapat menjadi diri mereka sendiri di tempat kerja
  • 9 poin persentase lebih kecil kemungkinannya untuk merasa cukup dihargai secara finansial

Bob Moritz, Global Chairman dari PwC mengatakan, “Ada kebutuhan luar biasa bagi bisnis untuk berbuat lebih banyak, demi meningkatkan keterampilan pekerja, sekaligus menyadari risiko polarisasi jika peluang tersebut tidak tersedia secara tepat dalam lapisan masyarakat. Pada saat yang sama, para pekerja tidak hanya mencari pendapatan yang layak, mereka juga menginginkan lebih banyak kendali atas cara mereka bekerja dan memperoleh makna lebih besar dari apa yang mereka lakukan. Ini terkait dengan memperoleh keterampilan, di mana pekerja dapat memperoleh kendali atas pekerjaan yang mereka cari. Para pemimpin harus beradaptasi untuk membangun tim yang dibutuhkan agar berhasil menghadapi tantangan serta peluang yang ada, kini dan nanti.”

Diskusi tentang isu-isu sosial adalah fitur sehari-hari di tempat kerja. Karyawan mendapatkan manfaat, meskipun kurang mendapat dukungan dari pemberi kerja

Survei menemukan bahwa 65% pekerja sering atau terkadang mendiskusikan masalah sosial dan politik dengan rekan kerja, dengan jumlah yang lebih tinggi untuk pekerja yang lebih muda (69%) dan etnis minoritas (73%). Sementara para pemimpin bisnis terkadang mengkhawatirkan tentang orang-orang yang membawa masalah yang berpotensi menimbulkan polarisasi ini, dampaknya sangat positif. 79% dari mereka yang berbicara tentang masalah sosial dan politik di tempat kerja melaporkan setidaknya satu konsekuensi positif dari itu.

Dengan isu-isu politik dan sosial yang hidup di tempat kerja, tugas pengusaha adalah menciptakan konteks yang menjamin manfaat dari percakapan terbuka sekaligus meminimalisir dampak negatif – 41% melaporkan konsekuensi negatif dari diskusi tentang isu-isu sosial. Kedua angka tersebut secara signifikan lebih tinggi untuk orang yang menganggap diri mereka sebagai bagian dari etnis minoritas (84% positif dan 59% negatif).

Survei PwC: Meski Pandemi, Bisnis Keluarga Akan Terus Meningkat

Diskusi-diskusi ini tetap terjadi meskipun sedikit upaya aktif dari pihak organisasi untuk membantu menjamin hasil yang positif. Hanya 30% karyawan yang mengatakan bahwa perusahaan mereka memberikan dukungan untuk membantu mereka bekerja secara efektif dengan orang-orang yang memiliki pandangan berbeda.

Survei menunjukkan bahwa pekerja memiliki minat khusus pada dampak yang diberikan pemberi kerja mereka terhadap ekonomi, iklim, dan masyarakat. Setengah dari pekerja (53%) merasa penting bahwa pemberi kerja mereka transparan mengenai dampaknya terhadap lingkungan, dua pertiga (65%) merasa transparansi tentang kesehatan dan keselamatan sangat penting, dengan transparansi tentang dampak ekonomi tidak jauh di belakang 60%, diikuti oleh upaya keragaman dan inklusi sebesar 54%.

Bhushan Sethi, Co-Leader Global People and Organisation Services dari PwC mengatakan, “Tenaga kerja yang beragam pasti akan membawa perbedaan pendapat tentang masalah sosial utama ke tempat kerja mereka. Para pemimpin perlu memastikan diskusi ini dapat menguntungkan tim daripada memecah belah mereka. Peran pengusaha bukan hanya sekedar memberitahu pekerja apa yang harus dipikirkan, tetapi memberi mereka suara, pilihan, dan lingkungan yang aman untuk mengungkapkan perasaan, mendengarkan, serta belajar tentang bagaimana masalah ini mempengaruhi rekan kerja mereka. Pekerja, terutama yang lebih muda dan etnis minoritas, merasakan manfaat dari terlibat dalam percakapan yang penuh hormat dan toleran.”

Karyawan yang terampil merasa paling diberdayakan, meningkatkan ketidaksetaraan di tempat kerja

Survei tersebut melukiskan gambaran tenaga kerja yang terpolarisasi pada sejumlah dimensi. Wanita 7 poin lebih kecil kemungkinannya dibandingkan pria untuk mengatakan bahwa mereka cukup dihargai secara finansial, tetapi masih 7 poin lebih kecil kemungkinannya untuk meminta kenaikan gaji. Wanita juga 8 poin lebih kecil kemungkinannya untuk meminta promosi, dan permintaan itu lebih mungkin diabaikan – karena wanita 8 poin lebih kecil kemungkinannya dibandingkan pria untuk merasa manajer mereka mendengarkan mereka.

Pete Brown, Co-Leader Global People and Organisation Services dari PwC mengatakan,“Ini buruk bagi masyarakat dan buruk bagi bisnis ketika ada kegagalan dalam menjamin perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mengembangkan keterampilan dan karir mereka. Salah satu cara tercepat untuk memperkuat tenaga kerja adalah memastikan perempuan tidak diabaikan – yang berarti mengatasi budaya, sistem, dan struktur yang dapat menyebabkan perempuan kalah.”

Terdapat juga perbedaan yang signifikan antara generasi, di mana pekerja Gen Z merasa kurang puas dengan pekerjaan mereka dan dua kali lebih mungkin dibandingkan Baby Boomers untuk khawatir bahwa teknologi akan menggantikan peran mereka dalam tiga tahun ke depan.

Salah satu pendorong polarisasi yang paling penting adalah keterampilan – dengan perbedaan besar antara pekerja yang memiliki keterampilan yang sangat dihargai dan mereka yang tidak. Data menunjukkan bahwa mereka yang memiliki keterampilan yang dibutuhkan (29% dari sampel merasa mereka memiliki keterampilan yang kurang tersedia di negara mereka) cenderung merasa lebih puas dengan pekerjaan mereka (70% v 52%), merasa didengar oleh manajer mereka (63% v 38%), dan memiliki sisa uang setelah mereka membayar tagihan mereka (56% v 44%).

Marina R. Tusin, Consulting Leader dari PwC Indonesia menambahkan, “Perusahaan saat ini menghadapi banyak tantangan yang mendesak. Dengan demikian, perusahaan perlu menyesuaikan strategi tenaga kerja mereka untuk memenuhi kebutuhan unik pekerja organisasi karena saat ini untuk mendapatkan keterampilan yang dibutuhkan dengan kesesuaian budaya yang tepat, lebih sulit dari sebelumnya. Yang tidak kalah penting, mereka perlu terus mengkomunikasikan pendekatan kepada para pekerja.”

Untuk menutup kesenjangan keterampilan, pekerja mengatakan bahwa perusahaan berinvestasi pada tenaga kerja saat ini melalui peningkatan keterampilan dan peningkatan upah. Sebaliknya, pekerja cenderung tidak melaporkan fokus pada otomatisasi, outsourcing, dan perekrutan.(BA-06)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini