Indonesia Jadi Negara Pengguna “Contingent Workforce” Terbanyak di Asia Pasifik demi Mengatasi Kelangkaan Tenaga Kerja

Ilustrasi (Foto: Pixabay)

BISNISASIA.CO.ID, SINGAPURA – PERSOLKELLY, salah satu perusahaan terkemuka dan terbesar yang menyediakan solusi SDM di Asia Pasifik, hari ini menerbitkan sebuah laporan survei bisnis. Menurut laporan tersebut, Indonesia menjadi negara pengguna Tenaga Kerja Kontingensi (Contingent Workforce) terbanyak di Asia Pasifik, dan tingkat penggunaan jenis tenaga kerja ini akan bertambah 15% dalam dua tahun mendatang.

Tenaga kerja kontingensi terdiri atas pegawai dengan kontrak kerja jangka pendek dan jangka tetap, pekerja lepas (freelancer), dan kontraktor independen yang bekerja secara alih daya melalui agen ketenagakerjaan.

Laporan ini menunjukkan perusahaan-perusahaan semakin sering menerapkan strategi Tenaga Kerja Kontingensi. Tujuannya adalah mengatasi kelangkaan tenaga kerja, bahkan strategi ini telah menjadi unsur penting dalam strategi ketenagakerjaan di Asia Pasifik. Maka, berbagai perusahaan berencana meningkatkan penggunaan jenis tenaga kerja ini dalam dua tahun mendatang.

Setelah bisnis terdampak Covid-19, perkembangan pesat teknologi dan ketidakpastian ekonomi mengubah pendekatan rekrutmen konvensional agar perusahaan tetap kompetitif. Alasan yang paling banyak ditemui saat perusahaan menggunakan Tenaga Kerja Kontingensi adalah fleksibilitas yang diperoleh dalam perencanaan tenaga kerja. Alasan kedua, mengisi jabatan kerja khusus untuk menjamin kelancaran operasional.

Survei ini menunjukkan perubahan pola pikir, dan sebagian besar perusahaan berpotensi menawarkan remunerasi serupa atau lebih baik dari staf permanen kepada pekerja kontingensi.

Kurangi Angka Pengangguran, Ralali Agent Siapkan Tenaga Kerja Andal dan Berkualitas

Sejumlah temuan penting di Indonesia:

  • 45% perusahaan Indonesia menggunakan pendekatan Pelatihan Kerja dan Peningkatan Keahlian Kerja (Upskilling) demi memperluas wawasan dan ruang lingkup tenaga kerja
  • 47% perusahaan Indonesia menawarkan skema remunerasi yang serupa dengan tenaga kerja permanen, sedangkan, 21% menawarkan skema remunerasi yang lebih baik dari tenaga kerja permanen
  • 41% responden menggunakan jasa agen rekrutmen kerja untuk memenuhi kebutuhan dan strategi tenaga kerja.

“Di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung, pemulihan pasca pandemi membuka berbagai peluang. Mengingat kelangkaan tenaga kerja, serta fluktuasi tingkat permintaan dan penawaran, perusahaan yang mengejar pertumbuhan harus menjalankan pendekatan rekrutmen yang baru agar tetap kompetitif. Strategi Tenaga Kerja Kontingensi yang diterapkan dengan baik mendatangkan berbagai manfaat dalam situasi yang fluktuatif ini,” ujar Elvin Tan, Regional Director – Head of Operations APAC, PERSOLKELLY. “Temuan survei tersebut akan membantu kami merancang dan menyempurnakan strategi Tenaga Kerja Kontingensi bagi klien sebagai bagian dari Regional Talent Solutions PERSOLKELLY di Asia Pasifik.”

PERSOLKELLY dan YouGov menyurvei 1.112 perusahaan dan pengambil keputusan dalam bidang SDM di Australia, Mainland China, India, Indonesia, Hong Kong, Malaysia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.(BA-06)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini