Lima Jenis Aplikasi Mobile di Indonesia Ini Alami Fraud Hingga Total Hampir Setengah Triliun di Semester II 2021

AppsFlyer Logo

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – AppsFlyer, perusahaan atribusi dan analitik pemasaran terkemuka, menemukan bahwa aplikasi mobile di Indonesia mengalami kerugian hingga hampir setengah triliun rupiah akibat fraud pada semester II 2021, dengan Aplikasi Keuangan menjadi jenis aplikasi yang mengalami dampak paling serius dibanding jenis aplikasi lainnya. Temuan AppsFlyer ini adalah hasil evaluasi lebih dari 2000 aplikasi mobile di seluruh vertikal seperti Fintech, Gaming, Belanja, F&B, dan Hiburan, demi membantu pemasar aplikasi Indonesia memahami lebih baik tentang potensi risiko yang dapat mengancam aktivitas kampanye pemasaran dan periklanan mereka.

Indonesia adalah salah satu dari dua negara dengan jumlah fraud iklan seluler (mobile ad fraud) tertinggi pada semester II 2021 di Asia Tenggara, setelah Vietnam, dengan jumlah kerugian mencapai hampir Rp 500 miliar (setara US$ 34,1 juta). Temuan lain oleh AppsFlyer mengindikasikan bahwa aplikasi Fintech, terutama layanan keuangan, aplikasi pinjaman dan perbankan, memiliki rata-rata tingkat fraud tertinggi, dengan nilai risiko lebih dari Rp 350 miliar (US$ 25 juta).

Dengan jumlah sekitar lebih dari 15 bank digital di Indonesia dan tingkat instalasi Aplikasi Keuangan tertinggi pada 2020, marketer aplikasi Fintech dihadapkan pada peluang dan tantangan secara bersamaan. Transformasi digital yang cepat dari sektor industri keuangan mendorong lebih banyak pelaku fraud untuk memanfaatkan celah di ranah aplikasi Fintech, ditunjukkan oleh tingkat fraud serta risiko rata-rata yang lebih tinggi dari kategori aplikasi lainnya.

AppsFlyer Tawarkan Metode Pengukuran View-Through Attribution Terhadap Klik Iklan dan Instal Aplikasi

Sementara itu, terkait jenis ad fraud, AppsFlyer mencatat bahwa taktik fraud yang paling banyak digunakan adalah distribusi bot (lebih dari 41%) — yakni upaya untuk mensimulasikan klik iklan, instalasi, dan in-app engagement, serta menyamar sebagai pengguna yang sah, yang mampu menguras sumberdaya iklan untuk pengguna palsu yang tidak memiliki nilai profit nyata. Click flooding juga merupakan taktik yang sering dilakukan oleh pelaku fraud (sebesar 32%), yaitu mengirimkan sejumlah besar laporan klik palsu dengan tujuan mengambil keuntungan dari anggaran pemasaran aplikasi.

Memasuki kuartal kedua tahun 2022, penting bagi marketer aplikasi untuk menyadari risiko fraud pada kampanye dan anggaran iklan mereka. Memahami risiko fraud ini tentu akan membantu mereka memahami lebih baik dalam mengetahui dan mengatasi masalah tersebut.(BA-06)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini