ENGIE Umumkan Operasi Komersial Proyek Geothermal Rantau Dedap 91.2MW di Indonesia

Ilustrasi

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Pembangkit listrik tenaga panas bumi konvesional kedua di dunia milik ENGIE memulai operasi komersilnya meski menghadapi tantangan lokasi yang terpencil, lahan yang sulit, dan dalam situasi pandemi.

ENGIE mengumumkan Tanggal Operasi Komersial (Commercial Operation Date/COD) Fase-1 dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Rantau Dedap, dimulai pada 26 Desember 2021. Pembangkit listrik ini terdiri dari dua turbin dengan kapasitas bersih 91.2MW. Proyek ini berlokasi di Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia, dan dikembangkan oleh PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD). PT SERD adalah perusahaan Joint-Venture yang dibentuk antara ENGIE (37.4%), Supreme Energy (25.2%) dan MeriT (37.4%, gabungan Marubeni dan Tohoku Electric Power).

Studi awal untuk proyek ini dimulai di tahun 2008 dengan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) yang ditandatangani pada 2012 dan memulai aktivitas eksplorasinya pada 2015. Setelah Amandemen PJBTL berakhir di penghujung 2017, pembiayaan tercapai pada bulan Maret 2018 dengan dukungan dari JBIC, ADB, Mizuho, SMBC dan MUFJ. SERD memulai kegiatan Development Drilling and Construction dengan perusahan EPC kontraktor yang ditunjuk yaitu konsorsium PT Rekayasa Industri/Fuji Electric.

Pada Tanggal Operasi Komersial, SERD memasuki masa 30 tahun PJBTL dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk menjual listrik bersih dari emisi CO2 dari tenaga panas bumi, yang mana nantinya akan disalurkan ke jaringan untuk menyuplai listrik di Sumatera.

Proyek ini dilaksanakan melalui skema Build, Own, Operate (BOO), dan mematuhi standar lingkungan hidup yang tinggi, serta melibatkan 2.800 pekerja konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi yang berlokasi di lahan pegunungan terpencil dengan sistem pipa uap (SGS) sepanjang 22 km, yang tersebar di area seluas 350km2.

Kimberly-Clark Softex Beralih ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya

“Kami bangga bahwa tim ahli kami mampu menyelesaikan proyek ini dengan sukses di masa pandemi global meskipun dihadapkan dengan tantangan lokasi di pedalaman dengan lahan terjal dan pada ketinggian hingga 2.600m di atas permukaan laut. Dengan PLTP ini, ENGIE dan mitranya menunjukkan komitmen dan menekankan kontribusi mereka untuk menuju dekarbonisasi bauran energi di Indonesia. Proyek industri ambisius bernilai kira-kira 700M USD ini selesai berkat dedikasi yang tidak kenal lelah dan dedikasi yang tinggi dari tim proyek, ujar David Cullerier, Direktur Utama ENGIE Energy Indonesia.

Proyek Rantau Dedap adalah bagian dari program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000MW kedua yang dimulai pemerintah Indonesia pada tahun 2010 (Fast Track Programme (FTP) – 2). Proyek ini diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan penyediaan listrik bersih bagi sekitar 500.000 rumah tangga, sementara di saat yang sama mengurangi emisi karbon dioksida 475.000 ton per tahun.

ENGIE bisnis merupakan referensi global di bidang energi rendah karbon dan jasa yang berkomitmen untuk mempercepat pergantian menuju dunia yang netral karbon melalui pengurangan konsumsi energi dan solusi yang lebih ramah lingkungan. Grup bisnis ENGIE terdaftar di bursa saham Paris and Brussels (ENGI) dan berada pada daftar indeks keuangan (CAC 40, Euronext 100, FTSE Eurotop 100, MSCI Europe) dan indeks non-keuangan (DJSI World, DJSI Europe, Euronext Vigeo Eiris – Eurozone 120/ Europe 120/ France 20, MSCI EMU ESG, MSCI Europe ESG, Stoxx Europe 600 ESG, dan Stoxx Global 1800 ESG).(BA-06)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here