Kedermawanan Masyarakat Indonesia adalah Aset Berharga

Logo Dompet Dhuafa

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Data dari World Happines Report 2018-2019, Indonesia menempati peringkat 82 dari 149 negara. Dengan tingkat kebahagiaan yang dianggap kecil, Indonesia malah menempati peringkat 1 sebagai negara paling dermawan di dunia berdasarkan data dari Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2021. Lantas, yang keliru di bagian mana? Apakah data yang keliru, atau indikator kebahagiaan yang keliru?

Sosial dan kemanusiaan tidak bisa lepas dari yang namanya kebahagiaan. Banyak penelitian yang mendukung fakta bahwa berbagi bisa menciptakan dan meningkatkan kebahagiaan. Salah satunya adalah penelitian dari Jorge Moll dan rekan-rekannya di National Institutes of Health. Mereka menemukan hasil penelitian yang menarik bahwa ternyata menyumbang untuk amal, bukan hanya untuk konsumsi pribadi, bisa mengaktifkan daerah otak yang berhubungan dengan kesenangan sehingga mampu menciptakan perasaan yang lebih positif. Bisa memunculkan kebahagiaan.

Berbagi adalah kunci kebahagiaan. Tapi kenapa Indonesia tidak termasuk negara paling bahagia? Data yang menilai Indonesia bukanlah negara bahagia tentu layak kita kritisi dan tidak bisa diterima secara mentah-mentah.

Sebagai muslim, ada banyak anjuran berbagai dalam ibadah seperti wakaf dan zakat. Secara sosial dalam kemanusiaan, berbagi dan donasi sudah menjadi kebiasaan. Bahkan di Indonesia sendiri, religius dan gotong royong sudah menjadi nilai utama dan budaya dalam bermasyarakat.

Bergerak dari dulu secara konvensional hingga kini di era milenial. Jika donasi pada masa dulu sebatas berbagi donasi seperti halnya infak dan sedekah melalui kenclengan, kini inovasi dan teknologi menjadi kunci utama agar donasi bisa lebih berdampak maksimal.

Kedermawanan masyarakat Indonesia adalah aset berharga yang harus dikelola sebaik-baiknya. Karena aset tersebut akan tetap terjaga bahkan di kondisi pandemi seperti sekarang ini. Bukankah ini adalah fakta sekaligus kabar gembira bagi Indonesia?

Dompet Dhuafa adalah salah satu lembaga yang aktif dalam bidang sosial dan kemanusiaan sejak tahun 1993. Tahun 2022, usia Dompet Dhuafa memasuki 29 tahun. Perjalanan yang tidak sebentar ini tentunya memberikan banyak pelajaran untuk mempersiapkan kesempatan sekaligus tantangan di masa depan.

ALAMI Inisiasi Kebaikan Bersama Yayasan Dompet Dhuafa

“Banyak terjadi perubahan kesejahteraan masyarakat karena dampak dari pandemi Covid-19. Melalui program zakat dan wakaf produktif, Dompet Dhuafa mengadakan program ketahanan pangan untuk masyarakat seperti: pemberdayaan 1000 hektar pertanian, sentra ternak masyarakat, dan penguatan usaha mikro masyarakat,” ungkap Doni Marlan, Direktur Pemberdayaan dan Pengembangan Ekonomi.

Untuk menjawab tantangan sekaligus kesempata tersebut, Dompet Dhuafa pada awal tahun 2022 akan mengadakan Social and Humanity Outlook 2022.

Dilaksanakan pada hari Rabu, 5 Januari 2022 pukul 09.00 – 12.30 WIB. Berlokasi di SMESCO Convention Hall, Jakarta Selatan. Event ini juga dapat dihadiri secara online dengan cara mendaftar di bit.ly/I-Hitsform
Social and Humanity Outlook 2022 akan mengundang berbagai narasumber yang berpengalam di bidangnya masing-masing.

Antara lain Nasyith Majidi, Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa (Keynote Speech), Hendri Saparini, Ph.D., Bendahara Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Social & Humanity Outlook 2022: Potret Sosial Ekonomi dan Kemanusiaan Indonesia, Doni Marlan (Direktur Pemberdayaan dan Pengembangan Ekonomi) Intervensi Kemiskinan dan Kemanusiaan melalui Pengelolaan Zakat dan Wakaf Produktif.

Bagaimana peluang sosial dan kemanusiaan di masa mendatang? Bagaimana mengelola kedermawanan terutama milenial dan generasi Z? Bagaimana inovasi sosial agar tetap adaptif di era teknologi? Temukan jawabannya di Social and Humanity Outlook 2022. (BA-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here