Hankook Tire Ajak Pengemudi Terapkan Etika Berkendara

National Sales Manager Passenger Car Radial PT. Hankook Tire Sales Indonesia Apriyanto Yuwono

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Etika berkendara merupakan sikap yang perlu dimiliki setiap individu pengguna jalan. Terkadang, pengemudi dengan jam terbang tinggi cenderung mengabaikannya karena merasa dengan mengabaikan perilaku ini tidak terlalu beresiko dengan situasi di jalan.

Produsen ban global Hankook Tire mengajak pengemudi agar tidak hanya berpatokan pada aturan wajib seperti undang-undang lalu lintas, tetapi juga berempati dengan sesama pengguna jalan dengan menerapkan etika berkendara.

National Sales Manager Passenger Car Radial PT. Hankook Tire Sales Indonesia Apriyanto Yuwono menuturkan “Soal etika berkendara, kita bisa belajar dari negara maju seperti Belanda, mereka sangat menghargai pejalan kaki.

Pengemudi di Belanda juga jarang menggunakan klakson, hanya saat keadaan darurat saja mereka menggunakannya dan lebih memilih untuk menggunakan lampu terutama saat malam hari. Gestur seperti inilah yang mencerminkan empati kita terhadap sesama pengguna jalan, bahwa semua berhak untuk aman dan nyaman.” ujar Apriyanto dalam keterangannya, Senin (15/11/2021).

Dengan semangat yang sama, Hankook Tire Indonesia mengingatkan kembali beberapa contoh etika berkendara lainnya yang bisa diterapkan untuk mereduksi risiko kecelakaan lalu lintas.

Pertama, berkendara dengan kecepatan yang stabil. Pengemudi yang ragu-ragu dalam menyetir membuat pergerakan kendaraan tidak teratur, bergerak cepat dan lambat dalam waktu singkat.

Pengemudi lain akan kesulitan mengantisipasi ketika berhadapan dengan situasi tersebut, akibatnya terjadi kemacetan bahkan kecelakaan lalu lintas.

Kolaborasi dengan Maybank Finance dan Garasi.id, Blibli Mudahkan Jual Beli Mobil Baru dan Lama Secara Aman dan Mudah

Kedua, Berikan jarak antar kendaraan. Jarak antar kendaraan sangat direkomendasikan untuk antisipasi kondisi yang mendadak. Terutama, terhadap kendaraan komersial/ truck & bus karena jenis kendaraan tersebut membutuhkan jarak lebih untuk berhenti dan membutuhkan ruang lebih untuk bermanuver dibandingkan dengan mobil penumpang.

Untuk mengira-ngira, Anda dapat mengatur posisi kendaraan Anda di belakang truk dengan memberikan jeda waktu sekitar 3 – 5 detik untuk membuat ruang kosong.

Pastikan Anda dapat melihat roda belakang kendaraan di depan Anda menyentuh jalan/tanah untuk menghitung jarak aman antara mobil Anda dan juga mobil tersebut.

Melihat roda belakang tersebut bukan berarti tanpa alasan, dengan Anda dapat melihat roda belakang pada kendaraan di depan berarti Anda memiliki ruang yang cukup untuk bermanuver ketika terjadi sesuatu.

Terlebih saat ini sudah memasuki musim penghujan sehingga perlu memperhatikan kondisi ban apakah sudah aus atau pola telapak ban yang dipakai sudah tepat guna menghindari efek hydroplaning.

Pola tersebut dapat meningkatkan efisiensi pengereman walau dalam kondisi basah. Selain itu, penggunaan lampu hazard sampai saat ini masih kerap disalahartikan oleh beberapa orang.

Salah satunya, menyalakan saat hujan lebat diperjalanan. Padahal, lampu hazard hanya boleh digunakan saat Anda sedang dalam keadaan darurat. Karena itulah, penggunaan lampu hazard saat hujan tidaklah disarankan. Pasalnya, lampu hazard justru akan menutupi fungsi lampu sein sehingga akan berbahaya jika pengendara lain tidak menyadari jika Anda akan berbelok.

Mobil Nganggur Imbas Pandemi, 8 Tips agar Mobil Tetap Awet dan Aman

Ketiga, gunakan waktu di jalan tol dengan efisien. Perhatikan anjuran kecepatan serta limit yang tertera pada papan rambu lalu lintas. Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan tentang Tata Cara Penetapan Batas Kendaraan pasal 3 ayat 4, disebutkan bahwa batas kecepatan di jalan tol dalam kondisi arus bebas yaitu 60 hingga 100 kilometer per jam dan jalan antar kota hingga 80 kilometer per jam sesuai dengan rambu yang terpasang.

Batas rendah ditentukan agar tidak mengganggu jalannya pengemudi lain yang berpotensi menyebabkan antrian di jalanan. Sedangkan batas maksimum ditentukan agar pengemudi dapat mengontrol laju kendaraannya supaya tidak terlalu cepat sehingga dapat mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas.

Keempat, jangan memblokir jalanan. Saat kondisi macet, memblokir jalan untuk pengendara lain agar mereka dapat lewat tentunya dapat menghambat laju kendaraan lain yang bisa mendahului seperti sepeda maupun motor. Terlebih lagi jika pengendara tidak menggunakan sein ketika ingin beranjak dari lajur jalannya maka hal tersebut dapat membahayakan pengguna jalan lain.

Kelima, yang menjadi landasan dalam mengemudi adalah manajemen emosi masing-masing individu. Selalu ingat bahwa dalam berkendara, pengambilan keputusan harus didasari dengan perhitungan risiko keamanan. Di samping itu, masalah pribadi juga semestinya tidak mempengaruhi performa berkendara karena hal tersebut dapat membahayakan individu maupun pengemudi lain.

Poin-poin aturan tertulis maupun tidak tertulis tersebut bisa disempurnakan dengan memperhatikan kondisi kelayakan kendaraan. Apriyanto mengimbau pengemudi untuk mengecek kembali komponen kendaraan seperti spion, sein, wiper, hingga ban. Apriyanto juga menambahkan cara menumbuhkan kesadaran pengemudi agar dapat mengikuti etika berkendara.

“Untuk menumbuhkan keinginan mengikuti etika tersebut, pengemudi harus memiliki sikap mawas diri, dalam artian selalu ingat jika kita berkendara tidak sendirian, ada banyak pengendara lain yang menggunakan jalanan tersebut dan selalu ingat bahwa ada yang menunggu kita di rumah untuk kembali dalam kondisi sehat” Tutup Apriyanto.

Meskipun tidak tertulis, etika berkendara dapat menjadi acuan bagi pengendara untuk menciptakan lingkungan berkendara yang aman, dan nyaman. Sehingga, risiko kecelakaan lalu lintas pun dapat terhindari dan pengemudi dapat saling menjaga keselamatan berkendaranya. (BA-01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here