UMKM di Jakarta dan Surabaya Mengalami Hambatan Manajerial dan Non-Manajerial

Apung Sumengkar, Managing Partner (CEO) Daya Qarsa

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – UMKM aktif di kota besar Indonesia, yaitu Jakarta dan Surabaya, mengalami dua (2) jenis kendala agar mencapai kinerja lebih optimal, berdasarkan hasil penelitian pada bulan Agustus tahun 2020 oleh Daya Qarsa, perusahaan konsultan transformasi strategis yang menawarkan layanan program terintegrasi mulai dari perumusan strategi hingga implementasi bisnis digital.

Riset terbaru Daya Qarsa yang berjudul ”Mendorong Produktivitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Melalui Digitalisasi” mengklasifikasikan hambatan UMKM, dengan hambatan manajerial: hambatan dari proses pengoperasian dan perencanaan bisnis, seperti hambatan dalam manajemen sumber daya manusia, pengoperasian bisnis, keuangan/pendanaan, dan pemasaran & penjualan.

Kemudian hambatan non-manajerial, hambatan yang dipengaruhi oleh faktor motivasi, tujuan bisnis dan keterampilan sumber daya manusia, di mana lebih didominasi oleh usaha mikro dan kecil.

“Kami mengidentifikasi hambatan bisnis UMKM dan hampir semua tantangan yang kami identifikasi dapat diselesaikan melalui digitalisasi. Karena itu, sektor UMKM perlu menjalankan proses penggunaan teknologi untuk meningkatkan pendapatan, meningkatkan bisnis, dan menciptakan budaya digital dengan informasi digital sebagai inti,” kata Apung Sumengkar, Managing Partner (CEO), Daya Qarsa dalam keterangannya, Senin (4/10/2021). 

Hipmi Jaya Berikan Bantuan Melalui Program UMKM

Tantangan UMKM yangpertama adalah masih tentang pendanaan, penelitian Daya Qarsa menunjukkan 52 persen UMKM masih menggunakan modal usaha sendiri dan 1% UMKM menggunakan pinjaman online.

Tiga puluh dua (32) % UMKM mengalami kesulitan dalam mencari pembiayaan dengan suku bunga rendah, 28% mengalami kesulitan dengan persyaratan agunan, 25% dengan proses pendaftaran yang rumit, 5% menemukan jumlah pembiayaan yang cukup, dan 1% menemukan pembiayaan syariah.

Ada pun pendanaan termasuk dalam yang termasuk proses pencarian pembiayaan, seperti modal kerja, gaji karyawan, dan tujuan pendanaan lain yang berhubungan dengan bisnis.UMKM1

Apung Sumengkar, Managing Partner (CEO) Daya Qarsa, mengatakan hambatan UMKM dapat dilakukan dengan mengoptimalkan teknologi atau digital financing melalui P2P Lending, Equity Crowdfunding, atau Supply Chain Financing.

Kebutuhan pendanaan UMKM cenderung variatif sehingga perlu menyesuaikan penyedia layanan keuangan yang ada. Saat ini, di Indonesia terdapat banyak penyedia pembiayaan digital yang tersedia di pasar, ada yang hanya termasuk dalam satu kategori, tetapi banyak juga yang termasuk dalam beberapa kategori.

Untuk pendanaan skala kecil, UMKM dapat memilih layanan pinjaman konsumtif, sedangkan untuk pendanaan skala besar UMKM dapat memilih pinjaman P2P Lending atau Equity Crowdfunding.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here