Tiongkok Bertekad Meningkatkan Regulasi Perdagangan Lintas Wilayah dan Mendukung UKM

Xi Jinping

BISNISASIA.CO.ID, BEIJING – Tiongkok akan mengajukan usulan “daftar negatif investasi” (negative list) untuk perdagangan jasa lintaswilayah di tingkat nasional.

Langkah ini bertujuan meningkatkan transparansi dan kemudahan iklim usaha di Tiongkok.

Hal ini diumumkan Presiden Tiongkok Xi Jinping di “Global Trade in Services Summit” pada ajang “China International Fair for Trade in Services” (CIFTIS) tahun ini lewat video.

Usulan tersebut pertama kali diajukan pada Juli lalu di Provinsi Hainan, Tiongkok Selatan—satu-satunya pelabuhan perdagangan bebas yang menjadi proyek uji coba di Tiongkok. Daftar negatif investasi terdiri atas 11 kategori. Menurut pejabat terkait, pemerintah akan memberikan kesetaraan peluang dan akses pasar di sejumlah sektor yang tidak tercantum dalam daftar ini.

“Kami akan menjalankan kebijakan terbuka pada jenjang yang lebih tinggi,” ujar Xi dalam ajang pameran tersebut. Xi juga bertekad memperkuat dukungan bagi sektor jasa, terutama untuk pihak-pihak yang telah terlibat dalam pembangunan Belt and Road Initiative (BRI).

Menurut Xi, Tiongkok akan membuka pencapaian teknologi kepada dunia, dan ingin bekerja sama di tengah masa pemulihan ekonomi pada era pascapandemi.

Xi juga menilai perdagangan jasa sebagai komponen penting dalam bisnis internasional dan perdagangan internasional. Untuk itu, Xi mendesak pengembangan regulasi di sektor tersebut.

Dukungan bagi usaha kecil dan menengah

Dalam sambutannya, Xi juga mendukung usaha kecil dan menengah (UKM) yang berorientasi pada inovasi. “[Kami akan] memperluas reformasi lewat Papan Perdagangan Ketiga yang Baru (Bursa Saham Nasional dan Pencatatan Saham),” jelas Xi.

Diluncurkan pada 2013, papan perdagangan saham ini menjadi kanal pendanaan baru bagi UKM, serta didukung prosedur pencatatan saham yang berbiaya murah dan ringkas. Data resmi menunjukkan bahwa sekitar 70% UKM  yang terdaftar di bursa efek berhasil memperoleh laba pada 2020 terlepas dari imbas pandemi Covid-19.

BAZNAS Kembali Raih Sertifikasi Covid Secure

Presiden Tiongkok ini juga mengumumkan pendirian bursa efek baru di Beijing. Dia berharap bahwa bursa efek ini menjadi sarana utama bagi UKM yang berorientasi pada inovasi. Bursa efek ini akan menjadi bursa saham ketiga di Tiongkok selain dua bursa efek yang berada di pusat keuangan Shanghai, dan kota di sebelah selatan, Shenzhen.

Bursa efek baru ini akan menjadi sarana penghubung bursa saham yang tersebar di berbagai kota, seperti yang tercantum dalam pernyataan resmi Komisi Pengawas Bursa Efek Tiongkok, setelah sambutan Xi.

Menurut pernyataan tersebut, bursa efek ini akan menyasar badan usaha milik negara (BUMN), serta merespons tren inklusivitas dan akurasi atas sasaran program BUMN.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here