USD Masih Loyo, Harga Emas Masih Kokoh di Atas $1800

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Meneruskan pergerakan rebound tipis kemarin, harga emas dibuka di kisaran 1802 pada perdagangan hari ini. Perhatian pasar tertuju pada sejumlah data Amerika Serikat (AS) kemarin serta pembicaraan FOMC.

Bergerak tipis sejak pembukaan perdagangan pekan ini, kurangnya data penting awal pekan ini menjadi faktor terbesar dalam pergerakan minim awal pekan ini. Dari AS, Consumer Confidence yang menilai kemampuan finansial konsumen meningkat hingga 129,1 dari yang diharapkan 123,9 setelah sebelumnya 128,9.

Sementara itu, peningkatan vaksinasi di sejumlah negara G7 yang sudah mencapai 50% memberikan harapan akan pemulihan perekonomian pasca Covid-19. Sementara itu, melemahnya nilai USD sejak awal pekan memberikan efek terhadap harga emas untuk terus meningkat. Di sisi lain, fokus pasar masih menunggu rilisnya pembicaraan FOMC pekan ini. 

Sementara vaksinasi di sejumlah negara G7 meningkat hingga 50%, terjadi penambahan kasus baru di sejumlah negara besar Eropa dan Asia. Di Spanyol, peningkatan signifikan dengan 61.625 kasus selama 24 jam terakhir memberikan kecemasan pasar akan pembatasan dan penguncian wilayah.

Sementara itu, tambahan kasus aktif di Inggris dan Prancis selama 24 jam terakhir mencapai 24.000 dan 22.000 kasus aktif. Sementara di AS, peningkatan kasus aktif harian mencapai 88.000 kasus aktif selama 24 jam terakhir. Di lain sisi, penurunan kasus di India memberikan angin segar akan pelonggaran pembatasan di dalam negeri.

Menjelang pembicaraan FOMC besok, harga emas terlihat berfluktuasi datar di atas zona support $1797 dan di bawah zona resistance $1806. Resistance terjauhnya berada di areal $1813 hingga ke zona $1828, sementara untuk support terjauhnya berada di areal $1760 hingga ke zona $1736.

Harga minyak terpantau mengalami koreksi ke zona hijau dari penutupan kemarin didukung oleh laporan mingguan API yang mengindikasikan meningkatnya permintaan minyak mentah di AS. Meski demikian, penyebaran kasus Covid-19 di Asia yang terus meningkat mengancam pemulihan pertumbuhan ekonomi yang ikut berdampak pada permintaan minyak mentah dari kawasan tersebut. 

Persediaan minyak mentah dan bensin AS dalam sepekan turun masing-masing sebesar 4,7 juta barel dan 6,2 juta barel berdasarkan laporan dari grup industri American Petroleum Institute (API) untuk pekan lalu (23/7). Angka resmi akan dirilis malam nanti oleh badan statistik pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA), yang diperkirakan stok minyak mentah akan turun sebesar 2,9 juta barel dan stok bensin juga diperkirakan akan turun sebesar 916.000 barel. Di samping itu, EIA juga akan merilis data mingguan produksi minyak mentah AS. 

Sementara itu, dalam laporan outlook ekonomi global yang dirilis pada hari Selasa (27/7), International Monetary Fund (IMF) memangkas pertumbuhan ekonomi untuk negara berkembang Asia tahun ini menjadi 7,5% atau turun 1,1% dari proyeksi sebelumnya yang dirilis pada bulan April. Penurunan tersebut jauh lebih besar dibanding penurunan untuk negara berkembang lain di seluruh dunia yang hanya dipangkas oleh IMF sebesar 0,4 persen. Lonjakan kasus Covid-19 dari varian baru serta vaksinasi yang lambat mengaburkan prospek pemulihan kawasan itu. Sementara untuk tahun 2022, IMF menaikkan perkiraan pertumbuhan untuk negara berkembang Asia sebesar 0,4 poin menjadi 6,4 persen. 

Korea Selatan kembali melaporkan rekor harian kasus baru yang mencapai 1.896 kasus dan memaksa diberlakukannya pembatasan yang lebih ketat selama dua minggu kedepan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari Covid-19 selama puncak musim liburan musim panas Korea Selatan. Thailand dan Vietnam memberlakukan jam malam untuk mengekang penyebaran virus di negaranya. Selain Asia, tanda-tanda melonjaknya penyebaran Covid-19 di AS memaksa otoritas kesehatan pada mewajibkan penggunaan masker di tempat umum termasuk bagi warga AS yang telah divaksinasi sepenuhnya.(BA-04)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini