Baru Terpenuhi 60 Persen Baku Pembanding Uji Obat, BPOM Luncurkan Inovasi SIKUMBANG ABG

BISNISASIA.CO.ID. JAKARTA – Sesuai Peraturan BPOM No 21 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan, salah satu fungsi Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) adalah penyusunan kebijakan teknis, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pengembangan Baku Pembanding.

Baku pembanding ini seringkali luput dari perhatian awam, padahal merupakan kebutuhan pokok dalam pengujian. Setiap laboratorium yang melakukan pengujian, pasti membutuhkan baku pembanding. Baku pembanding itu apa sih, kenapa penting sekali? Baku pembanding adalah bahan dengan kemurnian tertentu yang digunakan sebagai pembanding dalam melakukan analisis laboratorium untuk menentukan identitas ataupun kadar suatu analit.

Sayangnya ketersediaan jenis dan jumlah baku pembanding di Badan POM saat ini belum memadai. Contohnya baku pembanding untuk pengujian obat baru terpenuhi 60% dari baku pembanding yang dibutuhkan untuk pengujian sesuai Formularium Nasional. Demikian juga untuk pengujian obat tradisional, kosmetik, suplemen kesehatan dan pangan olahan masih belum terpenuhi kebutuhannya. Keterbatasan jenis dan jumlah baku pembanding tersebut menyebabkan pengujian obat dan makanan oleh laboratorium Badan POM di seluruh Indonesia menjadi terkendala.

“Banyak faktor yang menyebabkan belum terpenuhinya kebutuhan baku pembanding untuk pengujian obat dan makanan di Indonesia,“ ungkap Kepala PPPOMN, Mohamad Kashuri saat memaparkan aksi perubahan “Strategi Percepatan Pemenuhan Baku Pembanding Melalui Kolaborasi ABG” pada pertemuan  Focus Group Discussion (FGD) secara daring pada hari Senin, 19 Juli 2021.

“Jumlah dan jenis baku pembanding yang tersedia saat ini belum sesuai dengan kebutuhan jenis pengujian yang semakin berkembang. Belum lagi adanya ketergantungan terhadap baku pembanding impor, terjadinya inefisiensi baku pembanding yang belum dimanfaatkan secara maksimal oleh akademisi dan industri, inefisiensi biaya pengadaan baku pembanding, inefisiensi pengelolaan SDM pengembangan baku pembanding, hasil riset lembaga penelitian atau perguruan tinggi yang belum dimanfaatkan secara optimal, belum adanya jejaring kerjasama pengembangan baku pembanding, dan masih banyak lagi faktor penyebab lainnya,” jelas Mohamad Kashuri lebih lanjut. Keterbatasan jenis baku pembanding yang ada saat ini menyebabkan permintaan baku pembanding dari akademik dan industri belum dapat dilayani secara optimal.

“Berbagai tantangan tersebut mendorong kami untuk melakukan inovasi dalam meningkatkan jumlah dan jenis baku pembanding sehingga terjadi efisiensi sumber daya dan efektivitas pengujian untuk mewujudkan pengujian yang unggul, inovatif dan adaptif dalam pengawasan obat dan makanan,” tegas Mohamad Kashuri.

“Badan POM, dalam hal ini PPPOMN tidak mungkin bergerak sendiri. Harus dilakukan kolaborasi dengan kementerian/lembaga lain, pelaku usaha/industri, dan akademisi. Masing-masing menjalankan tugas sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawabnya, untuk mencapai tujuan yang sama yaitu percepatan pemenuhan baku pembanding.” Demikian disampaikan Sekretaris Utama Badan POM, Elin Herlina yang membuka FGD sekaligus memberikan arahan agar aksi perubahan berjalan sesuai dengan harapan.

SIKUMBANG ABG merupakan jawaban terhadap tantangan tersebut.Tidak hanya sekedar akronim dari aksi perubahan Strategi percepatan pemenuhan Baku Pembanding Melalui Kolaborasi Academic-Business-Government (ABG), Sikumbang ABG memiliki filosofi macan kumbang muda yang bergerak cepat, bermata tajam, dan sehat dengan bulu hitam legam mengkilap, tangguh siap membelah tantangan dalam berbagai kondisi. Harapannya adalah aksi perubahan ini dapat memberikan manfaat perubahan bagi organisasi secara adaptif dan agile dalam meningkatkan kerjasama penyediaan baku pembanding.

“Langkah awal kolaborasi ABG adalah Focus Group Discussion (FGD) bersama perwakilan dari Academic, Business, dan Government yang kita selenggarakan hari ini,” jelas Mohamad Kashuri. Hadir secara daring pada acara FGB tersebut sebanyak 414 orang peserta yang berasal dari berbagai unsur. Penanggap dari unsur Academic adalah Prof. Dr. Apt. Slamet Ibrahim S., DEA dari ITB, Prof. Dr. rer nat Muhammad Yuwono, MS dari Unair, dan Prof. Dr. Apt. Sudibyo Martono, MS dari UGM. Penanggap dari unsur Businessantara lain perwakilan PT. SIG Lab, PT. Kalbe Farma, dan PT. BVAQ Indonesia. Sedangkan penanggap dari unsur Government yaitu perwakilan dari BRIN, BPPT, LIPI, BSN-KAN, BNN, PUSLABFOR, dan LITBANGKES.

FGD menghasilkan kesepakatan dan dukungan komitmen dari para stakeholder sebagai mitra program pilot project dalam strategi percepatan pemenuhan baku pembanding. Pihak akademisi akan mendukung dalam hal pengujian, hasil sintesis dan ketersediaan peralatan laboratorium. Deputi Bidang Akreditasi BSN-KAN, Donny Purnomo menyatakan dukungannya untuk pencapaian Akreditasi ISO 17034:2016 di PPPOMN. LIPI akan mendukung dalam hal penyediaan bahan baku pembanding berupa isolasi dari bahan alam, sintesis dan karakterisasinya. PT. SIG Lab, PT. Kalbe Farma, LABKESDA, BPPT, Laboratorium BNN, PUSLABFOR, dan LITBANGKES Aceh juga akan mendukung sebagai kolaborator. PT BVAQ Indonesia akan memberikan dukungan sebagai technical assistant untuk isolasi dan analisis natural product.

Setelah FGD, langkah selanjutnya SIKUMBANG ABG adalah penyusunan roadmap pengembangan baku pembanding, pembuatan nota kesepahaman (MoU)/ perjanjian kerjasama (PKS) dengan stakeholder, sosialisasi dan pelatihan, produksi bahan baku pembanding, uji kolaborasi, pembahasan dan pleno penetapan baku pembanding, studi banding ke negara yang memproduksi baku pembanding, serta penyiapan dokumen mutu akreditasi produsen baku pembanding.

“Dengan adanya kerjasama antar berbagai pihak, diharapkan terwujud kemandirian bangsa Indonesia dalam pemenuhan baku pembanding, mengurangi ketergantungan terhadap impor, memberikan kepercayaan, bangga terhadap karya negeri sendiri, dan meningkatkan daya saing produk obat dan makanan dalam negeri,” tutup Kepala PPPOMN.(BA-04)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here