Teknologi Media Sosial, Dukung Perkembangan K-pop

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Pada bulan 18 Juni 2021, Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) kembali mengadakan program ‘Seri Kuliah Umum Daring Humaniora’ (SKUDH). Kali ini, KCCI mengundang seorang dosen ‘K-pop’ dari University of Southern California, Amerika Serikat, Profesor Lee Hye-jin. Ia saat ini sedang melakukan penelitian yang berfokus pada industri K-pop dan fandom global. Ia juga sedang menulis sebuah buku dimana pada buku tersebut menawarkan perspektif lintas budaya terkait K-pop.

Melalui tema “K-Pop in Transition: From Local Music to a Global Cultural Phenomenon”, Prof Lee menjelaskan tentang evolusi K-pop hingga dapat masuk perlahan ke pasar Amerika. Prof Lee berpendapat bahwa ketenaran K-pop di mancanegara tak lepas dari peran media sosial. Tidak seperti negara lainnya, perusahaan entertainment di Korea cukup mahir memanfaatkan teknologi media sosial untuk mempromosikan kegiatan artis mereka. Kerjasama dengan penulis lagu dan komposer luar negeri pun dilakukan agar warna musik K-pop semakin bervariasi dan lebih dapat diterima di luar Korea.

Apakah jika lagu K-pop yang 100% berbahasa inggris, atau anggota grupnya 100% non-Korea, maka masih disebut K-pop? Apakah ada rasa kebanggaan tersendiri sebagai orang Korea terhadap pencapaian K-pop sekarang? Menjawab pertanyaan ini, Prof Lee mengatakan bahwa definisi K-pop dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Contohnya, Jika kita hanya berfokus pada huruf ‘K’ pada K-pop, maka kita boleh saja beranggapan bahwa lagu dari idola Korea berbahasa Inggris yang populer sekarang ini bukanlah K-pop karena dinyanyikan dalam bahasa non-Korea. Namun jika kita menganggap K-pop adalah sebuah proses dimana ada perekrutan, pelatihan, promosi dan lain-lain, maka kita bisa menganggap bahwa sebuah lagu adalah bagian dari K-pop terlepas dari bahasa apa yang digunakan dan dari mana asal negara anggota grupnya. Ia juga beranggapan bahwa kebanggaan terhadap pencapaian K-pop adalah hal yang dirasakan seluruh penggemar K-pop di dunia, artinya kebanggaan ini bukan hanya milik orang Korea saja. Para peserta SKUDH pun sangat menyetujui pendapat tersebut dan mengaku ikut bangga karena K-pop sudah dapat menembus pasar global. Pada akhir acara, Prof Lee menyampaikan bahwa K-pop kedepannya akan menjadi suatu ikon yang lebih fenomenal, dan demam K-pop ini masih akan berlangsung lama. Ia meminta para peserta dan seluruh masyarakat Indonesia pecinta K-pop untuk menantikan inovasi-inovasi terbaru dari K-pop di masa depan.(BA-04)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here