Baru Ada 4,5 Juta Petani yang Melek Teknologi

  • Whatsapp

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Bekerja sama dengan DSInnovate, CROWDE mengeluarkan laporan riset untuk melihat sejauh mana agritech (agriculture-technology) dapat memberikan dampak positif bagi Indonesia. Mengangkat tajuk “Driving the Growth of Agriculture Technology Ecosystem in Indonesia”, laporan riset ini fokus membahas seputar lanskap pertanian di Indonesia, tantangan dalam industri pertanian, sampai studi kasus agritech di Indonesia.

Seperti sektor pertanian yang tumbuh sebesar 215% pada Q3 tahun 2020, tidak sejalan dengan kondisi petaninya yang memiliki tingkat penetrasi rendah terhadap teknologi. Padahal teknologi dapat memudahkan proses pertanian dari hulu ke hilir yang akhirnya meningkatkan pendapatan petani. Baru ada 4,5 juta petani dari total 33,4 juta petani di 2020 yang menggunakan internet selama satu tahun belakangan. Ini ditengarai oleh rendahnya tingkat pendidikan yang sebanyak 14 juta petani merupakan lulusan tingkat sekolah dasar.

“Kondisi petani Indonesia hingga kini masih sangat tradisional. Kehadiran teknologi seharusnya bisa membuat sektor pertanian lebih maju dan modern agar proses budidaya berjalan lebih efektif dan hasil panen pun jadi lebih maksimal,” ungkap Mirza Adhyatma, VP of Product CROWDE.

Untuk membantu penetrasi teknologi bagi mitra petani, CROWDE merekrut 40 field agent yang dibekali dengan aplikasi AgScout untuk mempermudah proses monitoring dan pendampingan petani saat berbudidaya. Teknologi ini juga memudahkan mitra petani untuk mendapat rekomendasi yang sesuai seputar proses budidaya.

Selain itu, budidaya pertanian di Indonesia yang masih sangat bergantung dengan alam dan tingginya biaya produksi, juga menjadi kendala. Ketika petani menggunakan bahan input seperti pupuk, pestisida, bibit yang murah, hasilnya pasti tidak akan maksimal. Padahal biaya produksi yang tinggi membuat mereka jadi kesulitan modal.

Terlebih bagi para petani kecil, semakin sulit mendapat pembiayaan formal karena kebanyakan dari mereka tidak memiliki jaminan sertifikat tanah. Ditambah sistem pembayaran dengan skema cicilan per bulan tidak sesuai dengan budidaya pertanian yang baru akan memperoleh hasil (panen) setelah beberapa bulan. Serta, prosedur administrasi yang rumit juga menyulitkan mereka. Keterbatasan akses permodalan inilah yang membuat usaha pertanian jadi sulit berkembang.

Sehingga kemunculan perusahaan startup di bidang pertanian dalam 5 tahun terakhir ini dapat memainkan peran kunci dalam pencapaian target sektor pertanian di Indonesia. CROWDE sebagai salah satunya juga berupaya mewujudkan terciptanya ekonomi inklusif yang mendukung permodalan bagi petani kecil dan unbanked. CROWDE memiliki tim farmer consultant yang akan membantu petani dimanapun mereka berada untuk mengajukan permodalan secara digital melalui aplikasi AgSales. Sekaligus membekali petani dengan literasi keuangan.

Selanjutnya dalam hal pemasaran, petani kita masih sering mengalami masalah seperti fluktuasi harga, fasilitas seperti gudang dan transportasi belum memadai, lokasi produsen dan konsumen yang tersebar, kurangnya pengetahuan petani tentang pemasaran, tidak tanggap terhadap permintaan pasar, serta mekanisme distribusi yang tidak efisien. Panjangnya jalur distribusi membuat harga yang diterima petani relatif lebih rendah dari harga yang dibayarkan konsumen.

Untuk itu, CROWDE bekerja sama dengan 9 off-taker institusional dan 118 off-taker retail lokal agar bisa menampung seluruh hasil panen mitra petani agar mereka tidak lagi perlu bingung soal akses pemasaran hasil panen. Mitra petani hanya tinggal fokus menjalankan budidayanya dan berupaya agar produktivitas hasil panen dapat terus meningkat.

Salah satu mitra petani CROWDE di Kabandungan, Pak Pian mengaku turut merasakan perbedaaan dan manfaat yang positif setelah bergabung di CROWDE. “Saya bisa mudah mendapat akses permodalan, lahan garapan jadi semakin luas hingga mampu ikut mengembangkan pertanian di daerahnya,” ungkapnya.

CROWDE terpilih menjadi salah satu startup di Indonesia yang mengikuti program Google for Startup Accelerator. Dalam program tersebut, CROWDE akan mendapat bimbingan dan dukungan teknis proyek dari tanggal 26 April – 10 Juni 2021. Selain itu, juga ada workshop dan pembahasan mendalam seputar desain produk, akuisisi pelanggan, dan pengembangan kepemimpinan bagi para founder. Ini menjadi kesempatan bagi CROWDE untuk semakin berkembang dan meningkatkan kualitas layanan demi kemajuan sektor pertanian di Indonesia.(HAB)