Pakar Psikologi Universitas Surabaya: Plagiarisme Berbahaya Seperti Covid 19

  • Whatsapp

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Perilaku plagiarisme di dunia pendidikan sangat berbahaya dan menular seperti virus Covid 19. Meski demikian, hal ini bias dicegah dan dihindari dengan menggunakan “vaksin anti virus” berupa teknologi.

Menurut Dr. Ide Bagus Siaputra, S.Psi, dosen Fakultas Psikologi dan Direktur Center for Lifelong Learning Universitas Surabaya (Ubaya), teknologi dapat membantu mendeteksi kemiripan naskah secara tekstual sehingga bias menghasilkan karya yang orisinal.

“Ada banyak ragam penyimpangan karya ilmiah, dan plagiarisme adalah salah satunya. Penyimpangan lainnya seperti fabrikasi atau menyajikan sesuatu yang tidak ada, falsifikasi atau mengubah untuk menipu, menambah atau mengurangi nama pengarang secara tidak etis, konflik kepentingan, dan publikasi berulang atas satu artikel yang sama atau pengajuan jamak,” tuturnya saat memaparkan materi webinar yang diselenggarakan perusahaan teknologi pendeteksi plagiarisme Turnitin, baru-baru ini di Jakarta.

Secara kebijakan, tambahnya, Indonesia sudah mengambil langkah awal sejak 20 tahun yang lalu dengan menerbitkan Surat Edaran Dirjen Dikti tentang upaya pencegahan tindak plagiarisme. Ada banyak peraturan yang menyertainya, antara lain UU no 12 tahun 2002 tentang Hak Cipta, UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 17 tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiarisme di perguruan tinggi, dll.

“Dari pengalaman kami mempromosikan integritas akademik di kampus Universitas Surabaya sejak 2012, kami menyadari kesalahpahaman antara penjiplakan, pelanggaran hak cipta dan plagiarisme sering kali menjadi penghalang ketika ingin mengupayakan perbaikan. Kenapa? Karena orang sering salah paham bahwa yang harus kita hindari adalah penjiplakan saja,” tutur peneliti yang telah memperkenalkan AKSARA (Akui, parafraSA, dan integRAsi) sebagai solusi yang dapat dicapai untuk mengurangi pelanggaran akademik ini.

Secara terpisah, Jack Brazel, Head of Business Partnerships Southeast Asia untuk Turnitin mengatakan bahwa pandemic telah mengubah pandangan tentang bagaimana penyelenggaraan pengajaran pendidikan tinggi bias dilakukan di mana pun.Universitas di seluruh Asia Tenggara dengan cepat mengadopsi alat pembelajaran jarak jauh untuk mengakomodir kebutuhan siswa.

“Fungsi pendidikan, selain untuk menyampaikan ilmu dan keahlian, juga penting untuk bersosialisasi. Interaksi tatap muka di ruang kelas memperkuat pengembangan keterampilan dan nilai umum yang dibawa siswa ke dalam bidang akademik dan penelitian serta kehidupan professional setelah lulus. Ketika pembelajaran kampus dipindahkan ke dunia virtual, pendidik harus menemukan cara untuk memastikan bahwa standard tentang bagaimana tugas dan penilaian dilaksanakan dapat dipertahankan di lingkungan kelas online. Ini termasuk membangun budaya dalam pembelajaran online yang menjunjung tinggi integritas akademik,” katanya.

Jack menambahkan, berbagai institusi pendidikan tinggi membuat rencana tentang bagaimana pembelajaran campuran (blended learning) dapat menjadi bagian permanen dari kurikulum mereka. Agar transisi ini berhasil, administrator dan pendidik perlu focus pada dua bidang utama: mengembangkan modul pembelajaran campuran yang menekankan integritas sebagai inti dari setiap tugas dan penilaian, serta mengintegrasikan solusi teknologi yang tepat untuk mendukung tujuan ini.

“Teknologi mulai memainkan peran penting dalam hal bagaimana lembaga pendidikan tinggi di Asia Tenggara beradaptasi dengan lanskap baru. Beberapa universitas di Indonesia menambahkan buku ke Google Classroom dan menambahkan lebih banyak eBook ke koleksi perpustakaan. Sebuah universitas di Filipina juga menjajaki penggunaan augmented reality (AR), virtual reality (VR) dan robotika dalam kursus kesehatan dan kedokteran untuk meningkatkan pengalaman belajar.”

Mendukung pendidik dengan pelatihan tentang keterampilan digital adalah penting untuk meningkatkan pengalaman kelas dan menjunjung standard integritas penugasan dan penilaian.

“Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa setiap siswa memiliki akses ke pendidikan berkualitas tinggi dengan memanfaatkan fleksibilitas teknologi untuk memberdayakan pembelajaran mereka, dan mendukung pendidik dalam menyampaikan instruksi dan umpan balik, serta penilaian yang akurat, efisien dan adil,” tuturnya.(BA-04)