Kena Tipu, Lebih dari Setengah Korban Bayar Tebusan Ransomeware

  • Whatsapp

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Menurut studi global terhadap 15.000 konsumen yang dilakukan oleh perusahaan keamanan global Kaspersky tahun lalu, lebih dari setengah (56%) korban ransomware membayar uang tebusan untuk mendapatkan kembali akses ke data mereka. Namun 17% dari mereka percaya bahwa membayar tebusan tidak akan menjamin data yang dicuri kembali. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran publik tentang potensi ancaman siber, ini dapat menumbuhkan optimisme bagi kita dalam memerangi ransomware.

Ransomware adalah jenis malware yang digunakan para pelaku kejahatan siber untuk melakukan pemerasan uang. Metode ini dilakukan dengan cara menyimpan data menggunakan enkripsi atau mengunci pengguna dari perangkat mereka, dan memanfaatkannya sebagai tebusan.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data Kaspersky tahun lalu, mereka yang berusia 35-44 tahun menjadi korban yang dengan persentase paling tinggi dalam hal membayar uang tebusan untuk memulihkan data mereka, dengan dua pertiga (65%) telah mengaku melakukannya. Kemudian diikuti dengan mereka yang berusia 16-24 tahun (52%) dan hanya 11% dari kategori usia diatas 55 tahun mengaku membayar uang tebusan. Ini menunjukkan bahwa pengguna berusia lebih muda lebih cenderung membayar tebusan daripada mereka yang berusia di atas 55.

Walaupun begitu, hanya sebanyak 29% korban yang mendapatkan kembali akses menuju data mereka. Separuh (50%) kehilangan setidaknya beberapa file, 32% kehilangan jumlah yang signifikan, dan 18% kehilangan sejumlah kecil file. Sedangkan 13% mengaku kehilangan hampir seluruh datanya.

“Temuan ini menunjukkan bahwa kami telah melihat proporsi yang signifikan dari konsumen yang membayar tebusan demi data mereka selama kurun waktu 12 bulan terakhir. Namun menyerahkan uang tidak menjamin kembalinya data, dan hanya mendorong pelaku kejahatan siber untuk melanjutkan praktik tersebut. Oleh karena itu, kami selalu menyarankan agar mereka yang terkena ransomware tidak membayar karena uang tersebut mendukung skema ini untuk berkembang.” kata Marina Titova, Head of Consumer Product Marketing di Kaspersky.

“Sebaliknya, konsumen harus memastikan untuk berinvestasi dalam keamanan dan perlindungan awal pada perangkat mereka dan secara teratur mencadangkan semua data berharga. Ini akan membuat serangan itu sendiri menjadi kurang menarik atau menguntungkan bagi para pelaku kejatan siber, meminimalisir terjadinya praktik tersebut, serta menghadirkan masa depan yang lebih aman bagi pengguna web,” tambahnya

Saat ini, sekitar empat dari 10 (39%) dari konsumen yang disurvei mengklaim bahwa mereka menyadari praktik ransomware selama 12 bulan terakhir. Penting untuk menyadari potensi angka yang meningkat karena kerja jarak jauh menjadi lebih produktif. Pengguna juga harus meningkatkan kewaspadaan dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan jika mereka menghadapi ransomware.(BA-04)

Pos terkait