Ancaman Terhadap Data Pribadi Ditengah Masifnya Produk Asuransi Digital

Roaming free zone text and European Union flag on mobile screen against man using mobile phone while having coffee

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Pandemi COVID-19 telah membawa perubahan signifikan dan pesat menuju digitalisasi. Bahkan sebelum pandemi COVID-19, transformasi digital ini sudah mulai terasa di hampir segala aktivitas, terlihat dari penggunaan masif online travel agent, online shopping, online transaction, sarana remote working, hiburan, dan sebagainya.

“Masyarakat Indonesia memang sudah mengarah ke transformasi digital dan dengan adanya pandemi COVID-19 justru semakin mengakselerasi pertumbuhannya. Namun, meskipun pertumbuhan digital di Indonesia semakin melesat, berdasarkan yang saya analisa masih banyak orang yang terjun ke bisnis digital tanpa betul-betul memahami konsep digital itu sendiri, sehingga tidak sedikit pula yang terjerat perang harga lewat digital,” ungkap Denny Santoso, Founder dan CEO,Tribelio.

Menurut Denny Santoso, bisnis digital sudah mengalami evolusi yang cukup besar. “Saat ini, dunia digital sudah memasuki era purposeful brand, dimana untuk dapat bersaing sehat secara digital, setiap merek atau bisnis harus membangun komunitas yang memiliki tujuan atau misi yang bermanfaat, atau yang dikenal dengan tribe. Tribe adalah istilah bagi kumpulan orang yang memiliki loyalitas tinggi terhadap tujuan yang sama. Maka dari itu, saya membangun Tribelio, sebuah platform digital yang dapat memudahkan para leaders, brand atau bisnis untukmengumpulkan orang-orang tersebut dan menjalin hubungan lebih dalam dengan mereka, sehingga tujuan dan misi nya dapat terlaksana dengan baik,” tambah Denny.

Selain itu, bisnis digital juga menawarkan beragam kemudahan yang dapat dimanfaatkan baik oleh penjual maupun pembeli. Kemudahan digital ini dimanfaatkan oleh beragam jenis bisnis dan industri, dan salah satunya adalah asuransi yang dapat memangkas proses-proses rumit dan mempercepat layanan.

Allianz Indonesia sendiri telah mengedepankan digitalisasi sejak fase awal nasabah bergabung, hingga melakukan klaim untuk menghadirkan pengalaman pengguna yang memberikan kemudahan serta pelayanan yang berkesan. Hal ini salah satunya diwujudkan melalui layanan Allianz Eazy Connect yang memudahkan nasabah untuk terkoneksi dengan layanan digital Allianz. Digitalisasi pada industri asuransi juga diharapkan dapat membantu penetrasi asuransi di Indonesia, yang masih menjadi salah satu negara dengan tingkat penetrasi asuransi terendah di dunia.

Namun, kemudahan digital juga mengundang kekhawatiran akan keamanan, terutama dalam hal privasi data. Pada pertengahan 2020, 91 juta data pengguna terpantau diperjualbelikan melalui Dark Web seharga Rp 73,5 juta dimana informasi seperti nama, alamat dan kontak dapat dibaca dengan sangat mudah. Hal ini tentu dapat menjadi ancaman bagi pengguna, terutama untuk aktivitas online yang vital seperti bertransaksi, termasuk membeli asuransi jika tidak didukung oleh peraturan dan sistem yang menunjang.

Perlindungan data pribadi pengguna tentunya menjadi salah satu perhatian utama bagi Allianz Indonesia. PT Asuransi Allianz Life Indonesia dan PT Asuransi Allianz Utama Indonesia telah meraih Sertifikat ISO 27001:2013 yang menjadi penilaian standar internasional terhadap sistem tata kelola keamanan informasi dan perlindungan data.

“Kami memahami bahwa keamanan siber masih menjadi sebuah tantangan besar. Terlebih sejak terjadinya pandemi COVID-19, di mana masyarakat dipaksa melek digital dan bergantung pada teknologi digital hingga berujung pada meningkatnya kejahatan siber. Dengan memiliki sertifikasi ISO 27001 menunjukkan bahwa kami telah melakukan langkah-langkah pencegahan untuk melindungi informasi nasabah, mengelola risiko keamanan informasi dari ancaman siber serta mencapai kepatuhan perlindungan informasi nasabah,” ungkap Mike Sutton, Chief Digital Officer Allianz Life Indonesia.

Allianz pun membagi tips agar data kita aman di era digitalisasi ini. Pertama, Jangan sembarangan menerima permintaan pertemanan di media sosial. Kedua, jangan sembarang klik tautan mencurigakan. Ketiga, jangan gunakan password yang mudah ditebak. Keempat, pastikan keamanan jaringan yang digunakan. Kelima, selalu perhatikan keamanan situs. Keenam, manfaatkan penggunaan notifikasi login. Ketujuh, aktifkan otentikasi dua langkah. Kedelapan, jangan simpan data kartu kredit di website atau akun e-commerce yang tidak kredibel.(BA-04)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here