RateS Berdayakan Masyarakat Melalui Konsep Inklusivitas dalam Social Commerce

  • Whatsapp

BISNISASIA.CO.ID, JAKARTA – Pertumbuhan social commerce di dunia terus mengalami tren peningkatan, hal ini terlihat dari semakin tingginya transaksi jual beli yang terjadi melalui platform digital. Banyak masyarakat menganggap social commerce adalah proses jual-beli produk melalui media sosial, namun sebenarnya social commerce memiliki banyak konsep.

Untuk itu, RateS hadir sebagai platform yang membantu reseller untuk dapat terkoneksi dengan layanan terintegrasi dan mendapatkan akses ke berbagai pilihan produk langsung dari pihak produsen, tanpa perlu memikirkan proses pengiriman barang dari produsen hingga ke gudang yang akan menjadi pick up point.

Bacaan Lainnya

Melalui RateS, reseller hanya perlu memilih dan mempromosikan produk yang akan dijual, dan ketika produk tersebut terjual, RateS akan bertanggung jawab dalam proses logistik hingga produk tersebut diterima oleh konsumen.

RateS menyediakan konsep layanan yang inklusif secara sosial dan ekonomi, dimana RateS memberikan support secara langsung dengan membekali reseller dengan berbagai hal yang dibutuhkan dalam menjalankan bisnis, termasuk juga menciptakan ekosistem yang saling mendukung.

RateS membangun jaringan yang unik di mana mereka dapat bergabung dan melatih reseller maupun agen dari komunitas yang berbeda. Dalam pelatihan ini, mereka mengajarkan bagaimana cara menjual kembali produk-produk e-commerce, FMCG, serta produk digital lain seperti paket data internet, baik online maupun offline.

Setelah pengguna bergabung menjadi reseller RateS, mereka akan tergabung dalam sebuah tim, dimana reseller terbaik dipilih menjadi ketua tim. Selanjutnya mereka akan bekerjasama dalam tim. Reseller akan dibimbing untuk menggunakan Facebook marketplace, Instagram, atau saluran lainnya sebagai sarana untuk dapat mempromosikan produk mereka. Sedangkan untuk metode penjualan secara offline, para reseller bisa menjadi point of contact (POC)  bagi komunitasnya di daerah seperti pedesaan.

Mengenai metode point of contact (POC), koordinasi antar tim yang baik, menjalin relasi, serta reputasi  menjadi kuncinya. Ketua Tim akan bertindak sebagai pembina dan menjadi pick up point bagi reseller di area tersebut, serta bertanggung jawab mengkonsolidasi seluruh anggota tim, juga pesanan yang diterima. Metode ini akan memungkinkan Pesanan dapat diambil dan dikirim langsung dalam jumlah besar, sehingga lebih ekonomis dibandingkan dengan pengiriman dalam jumlah kecil terutama ke daerah pedesaan terpencil.

Sebagai bentuk dukungan bagi reseller, RateS bertanggung jawab untuk mengirimkan produk yang telah dipesan dari produsen, hingga ke gudang terdekat. Sebagai catatan, RateS menyediakan gudang yang dapat menyimpan produk, dan memastikan proses logistik dan penyediaan barang bagi reseller dapat berjalan dengan baik.

RateS memiliki beberapa gudang yang menjadi mitra di berbagai kota seperti Sumatera, Jawa dan Sulawesi, dan selanjutnya akan dikembangkan hingga Kalimantan dan Nusa Tenggara.

Sebagai ringkasan, strategi RateS dengan memberdayakan reseller di berbagai daerah pedesaan, serta dukungan logistik dan tempat penyimpanan, telah dapat menjadi solusi untuk mengatasi tantangan distribusi ke kota-kota yang berada di tier-2 dan tier-3. Hingga saat ini, RateS telah memiliki lebih dari 500.000 reseller  yang tersebar di 400 kota di Indonesia.

Dengan membantu masyarakat mendapatkan produk yang dapat dijual, dan menyediakan dukungan logistik serta ekosistem kolaboratif, RateS telah menciptakan dampak sosial yang signifikan bagi masyarakat di pedesaan.

Jake Goh, Co-Founder dan CEO, RateS, menyatakan bahwa social impact yang tercipta dari platform RateS sejalan dengan konsep social inclusion, yang dapat mendukung masyarakat, terutama mereka yang kurang beruntung, untuk dapat meningkatkan mata pencaharian dan memiliki kesejahteraan yang lebih baik.

“RateS bertujuan menjadi pintu gerbang bagi masyarakat, terutama mereka yang memiliki tingkat ekonomi rendah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dengan memberi mereka kesempatan, akses ke sumber daya, dan dukungan ekosistem, sehingga mereka dapat mulai mendirikan dan menjalankan sebuah usaha,” ucap Goh.(BA-04)

Pos terkait